Monday, April 5, 2021

Menjadi Orang Tua Bukanlah Hal Yang Mudah Untuk Dilakukan


 Nonton Bareng Putra Semata Wayang Merupakan Me Time Buat Saya


Sewaktu kita remaja pernah enggak merasa kesal atau jengkel kalau Orang Tua sering ngomel dan bikin aturan enggak boleh begini, enggak boleh begitu, jangan pulang malam-malam, belajar, jangan kebanyakan main, jangan pacaran dulu dan sebagainya. Kadangkala kepengen protes tapi takut diomelin akhinya diem aja sambil menahan rasa jengkel.

Tapi setelah kita, dewasa, kemudian menikah dan punya anak, kita pun menjadi seperti Orang Tua Kita di masal lalu sering ngomel dan bikin banyak aturan di rumah. Kenapa begitu ? karena kita sudah melewati fase demi fase kehidupan yang begitu melelahkan dan penuh dengan masalah sehingga kita tidak ingin anak kita mengalami hal yang sama. 

Kekhawatiran kita begitu besar, kita ingin melindungi anak-anak kita dari hiruk pikuk dunia yang bikin sakit kepala sehingga kita menjaga anak-anak kita dengan sangat hati-hati sekali, sama seperti yang dilakukan oleh orang tua kita dulu.

Ya... menjadi orang tua ternyata tidak mudah karena sejak awal kita tidak pernah diberikan pendidikan khusus untuk menajdi orang tua yang baik apalagi di pendidikan formal pun tidak ada mata pelajaran yang khusus mendidik kita untuk menjadi orang tua yang baik karena itu untuk menjadi orang tua yang baik memerlukan proses pembelajaran yang sangat panjang dan kadang melelahkan.

Setelah kita menjadi orang tua kita memiliki cita-cita dan harapan besar kepada anak-anak kita, kita berusaha memberikan hal yang terbaik untuk mereka, pendidikan yang terbaik, kebutuhan sandang pangan yang tercukupi dan kita juga memberikan kesenangan kepada mereka karena kita sangat menyayangi anak-anak kita dan tidak ingin mereka susah dan bersedih, kita selalu ingin membahagiakan dan menjaga mereka dengan baik.

Namun, ada satu hal yang kita sering lupa bahwa anak-anak kita juga sama seperti kita mereka punya keinginan dan cita-cita mereka sendiri, mereka memang perlu di bimbing, dijaga dan dilindungi tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran dan keinginan kita kepada mereka karena mereka juga memiliki pemikiran dan keinginan sendiri.

Contohnya anak saya sendiri, sejak dia masih balita Saya dan Ayahnya sudah berpisah sehingga saya berperan menjadi seorang ibu dan ayah buat dia . Menjadi Single Parent atau orang tua tunggal tidaklah mudah karena harus bisa menempatkan diri pada dua posisi sekaligus kadang saya berperan sebagai ayah dan kadang saya berperan sebagai seorang ibu.

Dan pola didik yang saya terapkan ke dia sedikit berbeda dari ibu-ibu lainnya, sejak kecil saya biasakan dia untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dan pikirkan saya tidak banyak memberikan larangan kepada dia saya memberikan pandangan dan pilihan kepada dia dan mengajari hukum sebab dan akibat. 

Artinya setiap apa yang kita lakukan ada akibatnya baik hal positif atau negatif, misalkan kalau dia manjat-manjat dan dia tidak hati-hati maka dia bisa jatuh, saya menjelaskan hal itu kepada dia secara sederhana maka ketika dia naik-naik saya mengawasinya dari jauh saya tidak melarang dia karena pada akhirnya dia akan manjat juga karena dia ingin tau kalau manjat itu gimana rasanya, setelah dia jatuh dan merasa sakit dia akan menangis dan saya hanya bilang kepadanya kalau kamu tidak hati-hati maka itu akibatnya. Jadi dia belajar bahwa setiap apa yang dia lakukan akan berdampak kepada dirinya.

Anak-anak adalah mahluk yang ingin tahu banyak hal , kita juga dulu seperti itu ingin tahu banyak hal semakin dilarang rasa ingin tahu kita semakin besar dan kadang kala kita melanggar larangan yang dibuat orang tua kita dan akibatnya kita rasakan sendiri. 

Ya kita juga pernah menjadi anak-anak kemudian remaja dan menjadi orang dewasa . Kita pernah melakukan banyak hal bodoh dalam hidup kita karena ketidaktahuan kita, namun dengan seiringnya waktu kita belajar banyak hal dan merasakan banyak hal dan hal itulah yang membuat kita menjadi dewasa. 

Tidak bedanya dengan anak kita , mereka dalam masanya mencari jati diri mereka , banyak hal yang ingin mereka ketahui , banyak hal yang ingin mereka coba dan rasakan . Terutama masa remaja dimana jiwa muda mereka sedang bergejolak banyak pemikiran dan ide yang muncul dikepala mereka yang ingin mereka wujudkan.

Sekarang apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua ?. Saat mereka balita dan anak-anak mungkin kita bisa melindungi mereka 100% , namun setelah mereka remaja berikan kesempatan dan kepercayaan kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri. Biarkan mereka mengungkapkan ide dan gagasan mereka, cita-cita dan harapan mereka , sebagai orang tua kita cukup mengawasi mereka dari kejauhan . Saat mereka kecil kita sudah menanamkan nilai-nilai dasar sebagai pegangan hidup mereka dan setelah mereka remaja kita lihat apakah nilai-nilai yang kita tanamkan itu dipergunakan atau tidak oleh mereka.

Kita berikan ruang dan kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan menemukan jati diri mereka kita cukup mengawasi, membimbing dan mengarahkan mereka tetapi jangan memaksakan kehendak kita kepada mereka, Karena mereka punya kehendak dan cita-cita yang mereka ingin wujudkan yang mungkin saja tidak sejalan dengan pemikiran kita. 

Apakah kita akan langsung menentang keinginan mereka ? . Saya rasa sebaiknya kita berikan mereka kesempatan untuk mengemukakan ide dan gagasan mereka, kita lihat apakah apa  yang mereka lakukan akan membahayakan mereka atau tidak satu hal yang bisa kita lakukan adalah memberikan pandangan dan pilihan. Jika dia melakukan hal ini maka akibatknya akan seperti ini dan jika dia melakukan hal itu maka resiko yang akan dia tanggung seperti itu.

Jadi mereka akan tahu bahwa setiap hal yang mereka lakukan akan berdampak kepada diri mereka sendiri sehingga mereka harus berpikir baik-baik sebelum menentukan pilihan karena jika mereka sudah memilih jalan yang ingin mereka lalui maka resikonya akan mereka rasakan sendiri. 

Dan jika anak kita gagal dalam mencapai tujuannya jangan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan yang mereka alami karena setiap orang pasti pernah menghadapi kegagalan. seorang ilmuan dan pengusaha suksespun memerlukan waktu untuk mencapai kesuksesan yang mereka raih dan yang terpenting adalah jangan pernah takut menghadapi kegagalan .

Kegagalan bukanlah aib atau hal yang memalukan tetapi merupakan proses dari pembelajaran kehidupan yang harus kita jalani , dari kegagalan itu kita akan belajar untuk memperbaiki kesalahan yang kita lakukan dan berusaha untuk bangkit kembali. Anak-anak kita pun harus belajar menghadapi kegagalan dan bangkit dari kegagalan itu karena dari kegagalan itu mereka akan belajar untuk bertahan dan berusaha memperbaiki dirinya sendiri. 

Satu hal yang selalu saya ingat, kita tidak akan selamanya bisa menjaga anak-anak kita , karena suatu saat nanti pasti kita akan meninggalkan mereka dan melihat mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang bisa bertanggungjawab bukan hanya kepada dirinya tetapi kepada keluarga , lingkungannya , Agamanya bahkan kepada Bangsa dan Negaranya.

Demikianlah catatan kecil saya, sampai jumpa di catatan selanjutnya. Salam...!!









No comments:

Post a Comment

Selamat Datang Di blog ini, silahkan sahabat meninggalkan jejaknya dan Trimakasih atas kunjungannya ya ^_^