Saturday, April 3, 2021

Anakmu Bukanlah Dirimu

 

Saya dan Putra Saya


Saya selalu teringat dengan puisi karya salah seorang Sastrawan Dunia yang bernama Khalil Gibran yang berjudul "Anakmu Bukan Milikmu"  berikut ini merupakan isi dari puisi beliau .


Anakmu Bukan Milikmu

Karya Khalil Gibran



Anak adalah kehidupan

Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu.

Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu

Karena mereka dikarunia pikirannya sendiri.


Berikan rumah pada raganya tetapi tidak jiwanya,

karena jiwanya milik masa mendatang

yang tidak bisa kau datangi

bahkan dalam mimpi sekalipun.


Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah 

menuntut mereka jadi sepertimu

sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan 

tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur,

dan anak-anakmu adalah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya

hingga anak panah itu melesat,

jauh serta cepat.


Meliuk dengan sukacita

Dalam Rentang Sang Pemanah , sebab Dia

Mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.


Dari puisi di atas jelas sekali sang Sastrawan ingin menyampaikan pesan kepada kita semua yang membacanya bahwa anak kita bukanlah milik kita seutuhnya, mereka memang lahir dari rahim kita dan tumbuh serta besar dalam pelukan kita tetapi mereka punya kehidupannya sendiri , mereka punya keinginan, pemikiran , cita-cita dan harapannya sendiri. 

Kadang kala kita pernah memiliki mimpi, cita-cita dan harapan yang tidak bisa kita wujudkan di masa remaja dulu dan kita berharap bahwa anak-anak kita bisa mewujudkan impian itu,  Tetapi kita lupa bahwa anak-anak kita bukanlah diri kita mereka memiliki jiwa dan pemikiran yang berbeda dari kita walaupun secara fisik mungkin banyak memiliki persamaan dengan kita orang tuanya.

Kita bisa memberikan pandangan dan bimbingan kepada mereka, tetapi kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada mereka. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa saya pernah merasakan sendiri betapa tidak enaknya dipaksa untuk kuliah di jurusan yang tidak saya sukai. 

Karena saya tidak ingin ada konflik dengan orang tua, terutama Almarhum Ayah akhirnya saya mengikuti keinginan Beliau untuk kuliah di Fakultas Ekonomi walaupun batin saya menangis karena saya tidak tertarik dengan bidang itu. Dan saya menyelesaikan masa kuliah saya sesuai dengan waktunya. 

Namun bagaimana dengan anak-anak remaja yang lainnya ? saya rasa reaksi mereka pasti berbeda-beda ada yang mengikuti keinginan orang tuanya walaupun mereka kesal ada juga yang melakukan pemberontakan dengan malas mengikuti perkuliahan, jarang masuk kuliah dan sebagainya, hingga kuliah mereka tidak kunjung selesai.

Apalagi anak-anak remaja generasi saat ini, mungkin reksi mereka bisa lebih frontal dibandingkan dengan anak-anak remaja di zaman saya dulu. Karena pola didik generasi dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Pada zaman remaja dulu kami tidak bisa membantah apa yang diucapkan orang tua karena pola didik mereka sangat keras . 

Sedangkan anak remaja generasi saat ini lebih terbuka untuk mengemukakan pendapat mereka kepada orang tuanya karena pola didik mereka yang berbeda baik di sekolah maupun di rumah . Orang tua saat ini lebih terbuka dan mau mendengarkan pendapat anak-anaknya sedangkan di masa remaja kami sulit sekali menyampaikan pendapat dan ide kami kepada orang tua.

Namun tidak semua orang tua saat ini yang terbuka pemikirannya , yang mau mendengarkan keinginan anak-anaknya karena masih banyak juga orang tua yang masih  mewarisi aturan dan pemikiran yang diterapkan orang tua mereka terdahulu. Mereka cenderung untuk memaksakan keinginannya kepada anak-anak mereka dan hal ini bisa menimbulkan konflik diantara orang tua dan anak.

Yang perlu dikhawatirkan adalah kesehatan mental anak-anak remaja ini karena tidak semua anak-anak remaja berani mengungkapkan keinginan mereka kepada orang tuanya apalagi jika orang tuanya masih bersikap otoriter dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan keinginan dan  pendapat mereka.

Jangan sampai mereka mencari pelarian dengan melakukan hal-hal yang negatif seperti mengkonsumsi minuman keras, narkotika, tawuran pelajar, dan sebagainya yang dapat merusak masa depannya sendiri. Oleh karena itu sebagai orang tua kita juga harus banyak belajar menghadapi remaja saat ini. Kita tidak bisa menerapkan apa yang sudah orang tua kita lakukan terhadap kita dulu karena masanya sudah berbeda. 

Apalagi saya sebagai Single Mother harus berusaha menjalani dua peran sebagai Ibu dan juga Ayah bagi putra semata wayang saya. Hal ini tidak lah mudah bagi saya untuk dilakukan oleh karena itu saya terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik bagi putra saya, karena kemampuan untuk menjadi orang tua yang baik tidak muncul begitu saja , semua harus dipelajari dan dipahami karen ilmu parenting akan kita dapatkan dari pengetahuan yang kita dapatkan serta pengalaman sebagai orang tua.

Karena itu teruslah belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi putra putri tercinta karena mereka membutuhkan orang tua yang bisa memahami jiwa , pemikiran dan keinginan mereka.





No comments:

Post a Comment

Selamat Datang Di blog ini, silahkan sahabat meninggalkan jejaknya dan Trimakasih atas kunjungannya ya ^_^