Wednesday, December 11, 2019

Festival Panen Raya Nusantara 2019 Dengan Motto "Jaga Tradisi Rawat Bumi"

Gerbang Festival Panen Raya Nusantara 2019


Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 6-8 Desember 2019 telah berlangsung Festival Panen Raya Nusantara 2019 yang berlangsung di Atrium Plaza Semanggi Jakarta Selatan. Berbagai pangan bijak dari lokal, hijau sehat, adil dan lestari serta hasil kerajinan tangan berbahan dasar non kayu serta produk lokal lainnya dipamerkan dalam Festival Pangan Raya Nusantara 2019 ini.


Beberapa hasil kerajinan tangan dari komunitas yang mengikuti Festival Parara 2019

Festival Parara merupakan agenda dua tahunan yang diprakarsai oleh Konsersium Parara. Festival Parara pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2015 berlokasi di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, dan  kedua pada tahun 2017 di Lapangan Taman Menteng , Jakarta Pusat. Tujuan dari penyelenggaraan Festival Panen Raya Nusantara adalah Gerakan untuk mempromosikan  dan menampilkan produk-produk kewirausahaan dari berbagai komunitas dan masyarakat adat.

Produk-produk yang ditampilkan merupakan hasil dari upaya komunitas untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraannya dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusia dan berasal dari tradisi kearifan dan budaya komunitas tersebut.

Hasil kerajinan tangan yang dibuat dari kain tenun


Festival Panen Raya Nusantara 2019 ini diikuti oleh kurang lebih 30 Lembaga Swadaya Masyarakat dan Perwakilan dari kurang lebih 100-an Komunitas lokal dari seluruh nusantara. Penyelenggaraan Festival Parara yang cukup heboh tahun ini dilatarbelakangi dengan akan diberlakukannya Asia Economic Continuity di mana akan terjadi pasar bebas produk pangan di Asia sehingga bisa jadi produk pangan Indonesia akan kalah bersaing dengan produk pangan dari Negara Asia lainnya oleh karena itu perlu diadakannya promosi untuk produk pangan lokal.

Selain itu juga penggunaan plastik yang jumlahnya sangat besar saat ini cukup memprihatinkan, jika sampah plastik  dibuang ke sungai atau ke laut maka dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di sungai  dan laut sehingga mempengaruhi kesehatan  masyaraka jika mengkonsumsi panganan dari hasil sungai atau laut yang sudah tercemar sampah plastik, oleh karena itu harus dicari alternatif lain untuk mengurangi penggunaan plastik. Oleh karena itu diperlukan promosi gaya hidup yang lain untuk mengurangi penggunaan plastik.

Isue lain yang menjadi latar belakang penyelenggaraan Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah berdasarkan data statistik masih banyak anak-anak di daerah yang mengalami Stanting karena kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin, mineral, gizi yang seimbang. sedangkan di daerah perkotaan sebaliknya banyak ditemukan anak-anak yang mengalami Obesitas karena banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein,  lemak, gula yang tinggi. Sehingga perlu diadakannya promosi pangan sehat  dan gaya hidup sehat.

Pada tahun ini tema dari Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah "Pangan Bijak". Festival Parara mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi, produksi bahkan distribusi komoditas termasuk produk pangan. Dalam kesempatan ini saya berhasil berbincang-bincang dengan dua Lembaga Swadaya Masyarakat yang ikut membantu dalam mengembangkan komunitas dan masyarakat adat yang ada di daerah . 

Yang pertama adalah WALHI yang merupakan kepanjangan dari Wahanan Lingkungan Hidup Indonesia Menurut Mas Lilo yang merupakan perwakilan dari Walhi, organisasi ini berdiri sejak tahun 1980. Walhi merupakan organisasi tertua di Indonesia yang sangat perduli dengan masalah lingkungan hidup di Indonesia. Dalam hal ini WALHI khusus dalam membantu memberikan Advokasi ke masyarakat dalam hal regulasi. Di masyarakat WALHI memiliki wilayah kelola rakyat yang memproduksi produk-produk pangan. Selain produk pangan ada juga produk, kerajinan tangan, assesoris dan sebagainya.


Mas Lilo Perwakilan dari Walhi

Selain mengadvokasi masyarakat juga mengedukasi masyarakat yang mengalami konflik dilahannya. Selain mengadvokasi dari segi regulasi WALHIjuga mengedukasi masyarakat untuk bisa berdaya sendiri dalam hal ekonominya sehingga mereka bisa mandiri. Walhi membantu dalam hal tata kelolanya seperti apa, produksinya seperti apa serta pemasarannya.

Untuk pemasarannya WALHI punya market place sendiri yang namanya Toko WALHI dalam bentuk offline dan onlinenya bisa pesan melalui Whatapp atau Instragram WALHI sendiri. Selain itu Walhi juga memiliki koperasi dalam sekala besar . Dan saat ini Walhi sedang merancang sistem Market Place dalam bentuk website yang nantinya produk-produk dari manapun dapat masuk dalam website tersebut. Yang produknya sudah bersertifikasi dan kontinuitasnya terjaga, namanya Obalihara saat ini sedang dalam penguatan sistemnya nantinya Website ini seperti market place lainnya seperti Tokopedia , Bukalapak dan sebaginya. Namun market place yang sedang dirancang Walhi dikhususkan pada hasil produksi komunitas di wilayah dampingan WALHI yang produknya sudah tersertifikasi, dan dari kemasannya sudah baik dan tersertifikasi, kwalitas dan kontinuitasnya juga terjaga sehingga pembeli dapat mengorder produk yang ada di market place tersebut.

Contoh Sagu telur yang di tanam di lahan gambut  Sungai Thohor Riau


Untuk Advokasi ada beberapa kasus konflik lahan yang pernah di bantu oleh WALHI salah satunya adalah Sengketa Lahan Gambut Di Sungai Thohor Riau yang memproduksi Sagu Telur. Sengketanya dengan perkebunan sawit yang ingin membuka lahan sawit yang merupakan jenis tanaman monokulture, yang tidak bisa dicampur dengan tanaman lain. Sedangkan di sana produk sagunya sangat berpotensi sekali , karena merupakan daerah produsen sagu cukup besar. Dan jenis-jenis produk sagunya berbagai macam bukan hanya sagu telur tetapi jenis sagu lain yang bisa di buat mie sagu telur, gula sagu dan produk sagu lainnya. Dan kemasan sagunya juga sudah sangat baik , masyarakatnya juga sudah cukup kreatif dalam mengelola produk sagu ini.

Apa yang dilakukan WALHI adalah mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat agar mereka juga paham dengan regulasi yang berlaku sehingga jika ada sengketa lahan mereka dapat melakukan pembelaan atau proses hukum yang legal sehingga mereka dapat membela hak-haknya atas pengelolaan lahan hutan yang memang merupakan hak masyarakat setempat. Selain itu WALHI juga membantu menjembatani antara masyarakat dengan pihak pemerintah sehingga apa yang diinginkan oleh masyarakat bisa disampaikan oleh Walhkepada Pihak Pemerintah. Sejauh ini WALHI sudah ada di 28 Provinsi dari Aceh hingga Papua, masing-masing daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda ada yang permasalahan pertambangan, perkebunan, polusi udara , tata ruang hijau dan sebagainya dan di daerah Riau sendiri permasalah lingkungan yang ada adalah konflik lahan, kebakaran hutan . 


Kanan-kiri : Mbak Titik dan Mas Erwin dari FKKM


Selain WALHI, Lembaga Swadaya Masyarakat yang ikut meramaikan Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah FKKM, menurut Mas Erwin Setiawan FKKM yang merupakan kepanjangan dari Forum Komunikasi  Kehutanan Masyarakat berdiri tahun 1997-1998 yang didirikan oleh Alumni UGM dan kesininya sudah banyak juga yang bergabung dari Alumni IPB Fakultas kehutanan FKKM berkantor pusat di Bogor sedangkan produk-produk yang ditampilkan oleh FKKM dan mitranya antara lain kopi, madu, minyak kayu putih, 

FKKM didirikan dengan tujuan Agar pengelolaan hutan berbasis masyarakat artinya agar masyarakat ikut terlibat dalam pengelolaan hutan terutama kawasan-kawasan konservasi . Menurut Erwin selama ini kesannya masyarakat termarginalkan padahal sejak turun temurun dari nenek moyang mereka tinggal di sana, hidup dari hasil hutan, seperti mengambil madunya, rotannya, tetapi kesannya dikriminalkan karena tidak boleh mengakses hutan.

FKKM di dirikan untuk mendorong agar masyarakat  dapat mengelola  sebagian kawasan hutan karena ada zona-zona hutan yang memang dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat. Khusus untuk pengelolaan kopi wilayah yang sudah didampingi oleh FKKM adalah wilayah Bogor, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Buleleng Bali, Bandung dan Flores. Dan saat ini sedang berjalan di Aceh dan Marauke, untuk di Aceh upaya untuk pelestarian Orang Hutan di Kawasan Swaka Marga Satwa Rawa Singkil yang merupakan habitat orang hutan, sedangkan di Marauke sedang dibangun adalah Desa Perduli Lahan Gambut. Lahan Gambut adalah kawasan yang mudah terbakar , upaya yang dilakukan agar masyarakat setempat tidak mengalihfungsikan lahan gambut dengan perkebunan karena akan berbahaya dan dapat berpotensi terjadinya kebakaran.

Kembali pada pembahasan tentang kopi, Erwin menyampaikan bahwa kopi yang ditampilkan di Festival Panen Raya Nasional 2019 merupakan hasil kopi yang dikelola oleh masyarakat mitra FKKM dari pengelolaan hutan adat, hutan desa atau hutan kawasan konservasi sehingga kopi-kopi yang dihasilkan adalah kopi-kopi yang organik dan  yang ditanam dibawah tegakan pohon yang besar setelah masyarakat mendapatkan izin pengelolaan hutan konservasi namanya yang sudah diregulasikan oleh Pemerintah. Setelah FKKM mendorong masyarakat untuk mengelola kawasan hutan maka hasil kopinya bisa di dinikmati oleh masyarakat .

Sering kali hak pengelolaan hutan diberikan kepada perusahaan namun banyak perusahaan dengan hak konsesinya melakukan penebangan hutan dan merubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini yang tidak FKKM harapkan  karena dengan melakukan penebangan hutan dan menjadikannya sebagai lahan perkebunan seperti kelapa sawit maka akan merusak hutan dan itu akan berpengaruh pada ekosistem yang ada di hutan tersebut serta berpengaruh pada persediaan air di hutan.

Selain itu tumbuhan kopi juga sangat berpengaruh pada ekosistem yang ada disekitarnya sehingga cita rasa kopi yang dihasilkan bisa mengalami perubahan dengan adanya perubahan alam dan ekosistem tempat tumbuhan kopi tumbuh. Misalkan jika di dekat tanaman kopi ada pohon coklat yang tumbuh maka cita rasa dari kopi tersebut ada rasa coklatnya karena tumbuhan kopi menyerap apa yang ada disekitarnya. Sama seperti dengan madu cita rasa madu dapat mengalami perubahan dengan adanya perubahan ekosistem  dan iklim yang ada diwilayah tersebut.

Selain Walhi dan FKKM masih banyak Lembaga Swadaya Masyarakat dan komunitas yang meramaikan acara Festival Panen Raya Nusantara 2019 ini dan banyak sekali produk kerajinan tangan, kain tenun dari berbagai daerah di Nusantara yang unik dan cantik-cantik, sebagai bangsa Indonesia kita patut bangga melihat hasil pangan nusantara kita yang berlimpah ruah serta hasil kerajinan tangannya unik-unik dan menampilkan kekayaan budaya dan seni nusantara. 


Hasil Kerajinan Tangan dan Kain Tenun Dari Kalimantan

Selain pameran pangan nasional dan kerajinan tangan dari berbagai wilayah di nusantara kita juga bisa mengikuti berbagai macam diskusi yang sangat menarik untuk di simak salah satu diskusi yang saya ikuti adalah diskusi dengan tema "Jadikan Pangan Bijak Sebagai Gaya Hidupmu". Nah untuk pembahasan tentang diskusinya akan saya bahas dalam tulisan selanjutnya ya...


Baiklah teman-teman sampai berjumpa di pembahasan selanjutnya ya.., salam...











No comments:

Post a Comment

Selamat Datang Di blog ini, silahkan sahabat meninggalkan jejaknya dan Trimakasih atas kunjungannya ya ^_^