Thursday, December 12, 2019

Talkshow "Jadikan Pangan Bijak Gaya Hidupmu " Di Festival Panen Raya Nusantara 2019


Para Narasumber Talkshow "Jadikan Pangan Bijak Sebagai Gaya Hidupmu"

Seperti yang saya bahas sebelumnya bahwa Festival Panen Raya Nusantara 2019 yang diselenggarakan di Atrium Paza Semanggi , Jakarta Selatan, merupakan penyelenggaraan Festival Parara yang ke tiga kalinya sejak pertama kali diselenggarakan  pada tahun 2015 di Lapangan Banteng Jakarta Pusat . Festival Panen Raya Nusantara 2019 dihadiri oleh kurang lebih 30 LSM dan perwakilan dari 100 komunitas dari berbagai daerah di Nusantara.

Festival Panen Raya Nusantara 2019 diSelenggarakan oleh Konsorsium Parara yang berasal dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat, Komunitas , Masyarakat Adat yang terdiri dari NTFP-EP Indonesia ,WWF Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), ASPPUK, JKTI, KEHATI, GEF SGP,Kemitraan, RECOFTC, Koperasi Produsen AMAN Mandiri (KPAM), Aliansi Organis Indonesia (AOI), Samdhana Institute, Jaringan Madu Hutan Nusantara (JMHI) , Jasa Menenun Mandiri, Sintang ,Yayasan Riak Bumi -Pontianak, Yayasan Dian Tama -Pontianak, Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB), Rumah Organik, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM),WARSI, Jambi , Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) Jayapura, Yayasan Mitra Insani (YMI) Riau, Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Lampung, Yayasan Palung, KIARA, Yayasan Petak Danum, Yayasan Penabulu. Yayasan Tropenbos Indonesia (TI), Rimbawan Muda Indonesia (RMI).

Selain pameran produk kreatif PARARA 2019 juga menghadirkan talkshow, coaching clinic dan jamuan PARARA yang mengangkat topik-topik menarik seputar pangan dan kesehatan , industri kreatif berbasis non kayu, dan workshop craft. 


Salah satu Talkshow yang saya ikuti memiliki tema "Jadikan Pangan Bijak Gaya Hidupmu". Talkshow kali ini menghadirikan Narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing yaitu antara lain :

  1. Miranda dari HIVOS yang berbicara tentang Pangan Bijak Nusantara sekaligus juga bagaimana membangun Kolaborasi atau Partnership dengan multi pihak , seperti Pemerintah , Pihak Swasta. 
  2. Abdul Manan Produsen Sagu dan pelaku konservasi di Sungai Tohor Riau.
  3. Ulfa Diniati beliau adalah pejuang dari Persaudaraan Nelayan Perempuan Indonesia.
  4. Neni Roheni berbicara tentang dukungan kepada para komunitas yang terdiri dari komunitas Masyarakat Adat dan Komunitas lokal (Local Community).
  5. Maria Aqni, yang merupakan perwakilan dari PARARA Etnical Foods.

Dalam kesempatan kali ini Prisi yang juga menjadi salah satu moderator dalam diskusi ini menjelaskan sedikit tentang latar belakang dilaksanakannya Panen Raya Nusantara 2019. Seperti yang pernah saya jelaskan dalam  blog post yang berjudul "Festival Panen Raya Nusantara Dengan Motto Jaga Tradisi Rawat Bumi" bahwa PARARA merupakan gerakan untuk mempromosikan dan menampilkan produk-produk kewirausahaan dari berbaga komunitas dan masyarakat adat yang digerakan oleh 30 LSM. Produk yang dipromosikan adalah Produk-produk pangan, hijau, lokal, sehat, adil dan lestari dan merupakan hasil usaha komunitas untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraannya dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusia dan berasal dari tradisi kearifan dan budaya komunitasnya.

Banyak hal yang melatarbelakangi dilaksanakannya  Festival PARARA dengan sekala besar dilaksankannya Asia Economic Community yaitu dimana akan ada perdagangan yang bebas dan bisa jadi produk lokal akan kalah bersaing dengan produk dari luar negeri. Jadi kita ingin melakukan promosi produk pangan nusantara secara besar-besaran ujar Prisi.

Selain itu saat ini penggunaan plastik semakin banyak sehingga dapat berdampak kepada ekosistem di sungai , hutan, jadi kita ingin melakukan promosi gaya hidup lain dengan mengurangi penggunaan plastik. Kali ini penyelenggaraan PARARA 2019 bertema "Pangan Bijak".

Saat ini jika kita lihat statistik dari berbagai sumber yang menyatakan bahwa banyak anak-anak kita di daerah yang mengalami stunting karena kurang memngkonsumsi makanan yang mengandung gizi dan vitamin yang seimbang seperti protein, karbohidrat, vitamin dan mineral. Sebaliknya di daerah perkotaan banyak sekali anak-anak yang mengalami obesitas karena kebanyakan mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, lemak dan gula yang tinggi. Dan dengan produk pangan hijau, lokal, sehat, adil dan lestari  yang dikelola oleh masyarakat kita bisa melakukan promosi gaya hidup yang lebih sehat. Demikianlah yang melatar belakangi diselenggarakan Festival Panen Raya Nusantara 2019.

Selanjutnya Talkshow dengan tema "Jadikan Pangan Bijak Gaya Hidupmu" dimulai dengan Narasumber pertama yaitu Miranda dari  yang berbicara tentang Pangan Bijak Nusantara sekaligus juga bagaimana membangun Kolaborasi atau Partnership dengan multi pihak , seperti Pemerintah , Pihak Swasta.   

Menurut Miranda dari HIVOS , Pangan Bijak itu merupakan gerakan yang dilakukan untuk melaksanakan perubahan pada pola hidup kita yang menuju lokal, sehat adil dan lestari karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga masalah pangan menjadi perhatian utama. Maksud dari 4 (empat) prinsip yaitu lokal, sehat adil dan lestari  adalah 
  1. Pangan lokal adalah produk pangan yang bukan import, karena Indonesia kaya dengan keanekaragaman sumber hayati dan pangannya . Di Indonesia sendiri ada 77 jenis sumber karbohidrat, sumber minyak 75 jenis, 26 jenis kacang-kacangan , 389 jenis buah-buahan , 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman , 100 jenis rempah dan bumbu. Ini belum termasuk sumber pangan dari laut dan sungai. berbagai jenis sumber pangan inilah yang ingin diperkenalkan melalui Festival Panen Raya Nusantara.
  2. Sehat maksudnya adalah pangan yang sehat harus dikelola secara higienis, dan bernutrisi, tidak mengandung bahan pengawet dan zat kimia. Di Indonesia ini banyak sekali bahan pengawet alami dan sumber-sumbernya ada.
  3. Adil adalah konsumen dapat mengakses, dapat membeli , produsen yang memproduksi juga sejahtera jadi jangan sampai yang bisa membeli hanya orang-orang yang punya uang saja tetapi produsennya tidak merasakan penghasilan yang seimbang dengan kualitas produksinya.  Dan adil bukan hanya untuk produsen dan konsumen tetapi juga untuk lingkungan.
  4. Lestari adalah bagaimana cara produksi pangan ini tetap lestari sehingga dapat di nikmati oleh generasi selanjutnya. 
Miranda menjelaskan bahwa pemangnku kepentingan pangan ini banyak jika kita lihat kepada Pemerintah maka banyak departemen yang menangani masalah pangan seperti Kementrian Pertanian , Kementerian UKM, Kementerian Kemaritiman dan diluar pemerintah pemangku kepentingannya juga banyak antara lain Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada di PARARA, Universitas, Lembaga Pendidikan, Asosiasi dan media. Media sangat penting karena media sangat berpengaruh untuk perubahan gaya hidup , seperti saat ini ada Media Sosial yang memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perubahan gaya hidup. Jadi semua ini memerlukan koordinasi dalam pelaksanaannya sehingga tidak ada yang tumpang tindih dalam pelaksanaanya , juga dilakukan koordinasi dengan BAPENAS untuk membuat sistem pangan kita ini lebih berkelanjutan .

Narasumber Abdul Manan Produser Sagu dan Pelaku Konservasi
di Sungai Tohor,  Riau. 


Pembicara Selanjutnya adalah Abdul Manan berasal dari Sungai Tohor Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti Riau. Menurut Abdul Manan pohon sagu yang disebut rumbia tumbuh  subur di lahan gambut di daerah Sungai Tohor Kepulauan Meranti dan beberapa daerah lain di Indonesia. Menurut Manan pohon sagu ini sudah dikelola sejak turun temurun oleh orang tuanya, sebelum era reformasi pemerintah lebih menggalakan untuk menanam padi di daerah tersebut di bandingkan sagu, tetapi setelah era reformasi tumbuhan rumbia berkembang pesat di daerah tersebut .

Dan saat ini di sungai Tohor produksi sagu sudah mencapai 300 ton perbulan dan sudah dieksport ke Malaysia, sangat disayangkan sekali sagu yang bagus di eksport ke Malaysia dan diproses kemudian dikirim kembali ke Indonesia. Jadi jika Indonesia mengalami krisis pangan kita bisa antisipasi dengan sagu karena sagu ada di Riau, Sulawesi dan Papua. Saat ini sudah dihasilkan berbagai macam jenis makanan yang dibuat dari bahan dasar sagu ada sekitar 300 jenis makanan yang terbuat dari bahan dasar sagu. Jadi sagu bisa dibuat menjadi beras, bisa dibuat menjadi gula sagu, bisa dibuat mie sagu, dan tepung sagu.

Di Sungai Tohor sudah dibuatkan industri menengah pengolahan sagu oleh pemerintah sehingga dalam satu hari bisa menghasilkan 20 ton sagu/hari. Tamanan Rumbia sangat membutuhkan air sama seperti lahan gambut , jika lahan gambut  dipertahankan maka tidak akan terjadi kebakaran hutan. Di Desa tempat tinggal Abdul Manan masyarakatnya tidak diperkenankan untuk menanam tanaman lain selain sagu apalagi sawit. Masyarakat di daerah itu hidup dari hasil produksi sagu sehingga sagu merupakan produk lokal yang sangat berperan dalam perekonomian masyarakat Sungai Tohor.

Dengan adanya Festival Panen Raya Nusantara ini diharapkan sagu lebih dikenal lagi oleh masyarakat sebagai pangan lokal sehingga dapat permintaan atas sagu dapat meningkat terutama sagu dari daerah Kepulauan Meranti.  Menurut Manan saat ini kita ingin memotong mata rantai ekspor sagu ke Malaysia sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan sagu di dalam negeri dan bisa menjadikan sagu sebagai bahan pangan pengganti tepung terigu.

Saat ini kita banyak mengimport tepung terigu dari luar negeri sedangkan produksi tepung sagu di Indonesia sangat besar , saat ini kita harus berusaha mencari alternatif pangan untuk menggantikan beras dan terigu jika krisisi pangan terjadi di Indonesia. Dan sagu bisa menjadi salah satu pilihan untuk menggantikan beras dan terigu. Selain itu sagu juga sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes karena beras sagu mempunyai kandungan serat yang tinggi, indeks glikemiknya rendah , mengandung pati resisten yang baik bagi pencernaan serta aman bagi penderita diabetes.


Pembicara Selanjutnya adalah Ulfa Diniati  yang merupakan pejuang dari Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia. Ulfa menjelaskan bahwa dia merupakan perwakilan dari Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Kendal dan Komunitas Mitra Kiara. Menurut Ulfa tanpa komunitas mungkin ia tidak bisa bicara di talkshow dan mengikuti Festival PARARA.

Komunitas Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia berjualan produk hasil laut yang diolah menjadi bahan pangan seperti krupuk, empek-empek, dan makanan laut lainnya yang dikerjakan oleh perempuan-perempuan nelayan yang hasilnya penjualannya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Sebelum mereka bisa mengolah bahan dasar dari laut mereka mengikuti  pelatihan yang diselenggarakan oleh PPNI sehingga mereka berhasil membuat panganan dari hasil laut. Dari PPNI Kendal yang diolah adalah Empek-empek, Nugget , Krupuk Ikan, dan proses penjualannya melalui online .

Kemudian Pembicara selanjutnya adalah Neni Rohaeni merupakan perwakilan dari Samdhana Institute lembaga ini merupakan lembaga non profit yang  mendukung masyarakat adat dan komunitas lokal untuk memperkuat mereka dan memastikan bahwa akses sumber daya alam tidak terganggu. Memastikan mereka mendapat pengakuan dari pemerintah bahwa wilayah tempat mereka hidup bisa terjaga.

Mengapa masyarakat adat dan komunitas lokal perlu didukung ? Karena mereka itu adalah komunitas yang sibuk dengan keseharian mereka pergi berkebun sehingga akses untuk mendapatkan informasi sangat kurang sehingga mereka perlu pihak-pihak yang menjembatani mereka dengan pemerintah dan pihalk lainnya. Salah satu contohnya adalah komunitas masyarakat adat yang berasal dari salah satu Dusun di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat  . Bentuk dukungannya adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat sebetulnya potensi apa yang bisa mereka kembangkan , kemudian pasar itu membutuhkan apa ? jadi pada dasarnya masyarakat adat mempunyai potensi yang besar dimiliki oleh tetapi masih dipergunakan untuk kebutuhan dilingkungannya sendiri. Padahal jika pengelolaannya maksimal maka hasil produksi yang mereka hasilkan dapat meningkatkan perekonomian mereka dan memperkecil kerusakan hutan yang disebabkan oleh kegiatan ekonomi mereka atau mereka dapat mengatasi godaan-godaan untuk  mengekplorasi lahan hutan untuk kepentingan yang lain.

Salah satu tanaman yang sedang dibudidayakan oleh masyarakat adat di daerah tersebut adalah Tanaman Tengkawang. Tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena memiliki banyak manfaat dan merupakan tanaman endemik di wilayah Kalimantan. Tanaman Tengkawang dapat diolah menjadi makanan dan lemaknya dapat dijadikan sebagai bahan dasar kosmetik. Upaya Samdhana Institute untuk membantu komunitas masyarakat adat ini adalah dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat bagaimana mengolah tanaman ini sehingga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Selain itu secara tehnologi kami dukung tentunya dengan Institusi lokal mendukung sepenuhnya mini factory yaitu mengolah tengkawang menjadi produk lokal. Yang perlu kita jadikan perhatian adalah tanaman ini banyak di lirik konsumen dari luar negeri dibandingkan dalam negeri , hal ini perlu menjadi perhatian kita sehingga kita perlu melakukan riset atau penelitian mengenai manfaat dari Tengkawang dan mensosialisasikan pada masyarakat adat bahwa ini merupakan harta mereka yang harus di jaga.

Neni Rohaeni Perwakilan dati Samdhana Institute

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembahasan dari nara sumber lain dan forum tanya jawab . Acara Talkshow ini berjalan kurang lebih 1 jam 30 menit dan diakhir acara peserta talkshow juga disuguhkan makanan yang dibuat dari pangan lokal yang dibuat oleh PARARA Etnical Foods store , saya sempat merasakan kenikmatan Beras Sagu yang diolah menjadi bubur dan diberi tambahan buah pisang, menurut saya rasanya cukup unik dan enak . Sepertinya saya harus mencoba membuatnya di rumah.




Dan bagi pencinta kopi dan barista ada sesi cupping dan ngopi PARARA . Festival ini juga memberikan ruang kepada anak-anak dan keluarga, pertunjukan kesenian tradisional masyarakat Kulawi, sulawesi Tengah, Stand Up Comedy dan Jurnalis Cilik juga turut meramaikan Festival Panen Raya Nusantara 2019 selain itu ada juga hiburan dari Benedicanta Singers dan Senandung Orquestra. Demikianlah rangkaian kegiatan Festival  Panen Raya Nusantara 2019, sampai berjumpa di Festival Panen Raya Nusantara selanjutnya...., salam...........




Wednesday, December 11, 2019

Festival Panen Raya Nusantara 2019 Dengan Motto "Jaga Tradisi Rawat Bumi"

Gerbang Festival Panen Raya Nusantara 2019


Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 6-8 Desember 2019 telah berlangsung Festival Panen Raya Nusantara 2019 yang berlangsung di Atrium Plaza Semanggi Jakarta Selatan. Berbagai pangan bijak dari lokal, hijau sehat, adil dan lestari serta hasil kerajinan tangan berbahan dasar non kayu serta produk lokal lainnya dipamerkan dalam Festival Pangan Raya Nusantara 2019 ini.


Beberapa hasil kerajinan tangan dari komunitas yang mengikuti Festival Parara 2019

Festival Parara merupakan agenda dua tahunan yang diprakarsai oleh Konsersium Parara. Festival Parara pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2015 berlokasi di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, dan  kedua pada tahun 2017 di Lapangan Taman Menteng , Jakarta Pusat. Tujuan dari penyelenggaraan Festival Panen Raya Nusantara adalah Gerakan untuk mempromosikan  dan menampilkan produk-produk kewirausahaan dari berbagai komunitas dan masyarakat adat.

Produk-produk yang ditampilkan merupakan hasil dari upaya komunitas untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraannya dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusia dan berasal dari tradisi kearifan dan budaya komunitas tersebut.

Hasil kerajinan tangan yang dibuat dari kain tenun


Festival Panen Raya Nusantara 2019 ini diikuti oleh kurang lebih 30 Lembaga Swadaya Masyarakat dan Perwakilan dari kurang lebih 100-an Komunitas lokal dari seluruh nusantara. Penyelenggaraan Festival Parara yang cukup heboh tahun ini dilatarbelakangi dengan akan diberlakukannya Asia Economic Continuity di mana akan terjadi pasar bebas produk pangan di Asia sehingga bisa jadi produk pangan Indonesia akan kalah bersaing dengan produk pangan dari Negara Asia lainnya oleh karena itu perlu diadakannya promosi untuk produk pangan lokal.

Selain itu juga penggunaan plastik yang jumlahnya sangat besar saat ini cukup memprihatinkan, jika sampah plastik  dibuang ke sungai atau ke laut maka dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di sungai  dan laut sehingga mempengaruhi kesehatan  masyaraka jika mengkonsumsi panganan dari hasil sungai atau laut yang sudah tercemar sampah plastik, oleh karena itu harus dicari alternatif lain untuk mengurangi penggunaan plastik. Oleh karena itu diperlukan promosi gaya hidup yang lain untuk mengurangi penggunaan plastik.

Isue lain yang menjadi latar belakang penyelenggaraan Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah berdasarkan data statistik masih banyak anak-anak di daerah yang mengalami Stanting karena kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin, mineral, gizi yang seimbang. sedangkan di daerah perkotaan sebaliknya banyak ditemukan anak-anak yang mengalami Obesitas karena banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein,  lemak, gula yang tinggi. Sehingga perlu diadakannya promosi pangan sehat  dan gaya hidup sehat.

Pada tahun ini tema dari Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah "Pangan Bijak". Festival Parara mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi, produksi bahkan distribusi komoditas termasuk produk pangan. Dalam kesempatan ini saya berhasil berbincang-bincang dengan dua Lembaga Swadaya Masyarakat yang ikut membantu dalam mengembangkan komunitas dan masyarakat adat yang ada di daerah . 

Yang pertama adalah WALHI yang merupakan kepanjangan dari Wahanan Lingkungan Hidup Indonesia Menurut Mas Lilo yang merupakan perwakilan dari Walhi, organisasi ini berdiri sejak tahun 1980. Walhi merupakan organisasi tertua di Indonesia yang sangat perduli dengan masalah lingkungan hidup di Indonesia. Dalam hal ini WALHI khusus dalam membantu memberikan Advokasi ke masyarakat dalam hal regulasi. Di masyarakat WALHI memiliki wilayah kelola rakyat yang memproduksi produk-produk pangan. Selain produk pangan ada juga produk, kerajinan tangan, assesoris dan sebagainya.


Mas Lilo Perwakilan dari Walhi

Selain mengadvokasi masyarakat juga mengedukasi masyarakat yang mengalami konflik dilahannya. Selain mengadvokasi dari segi regulasi WALHIjuga mengedukasi masyarakat untuk bisa berdaya sendiri dalam hal ekonominya sehingga mereka bisa mandiri. Walhi membantu dalam hal tata kelolanya seperti apa, produksinya seperti apa serta pemasarannya.

Untuk pemasarannya WALHI punya market place sendiri yang namanya Toko WALHI dalam bentuk offline dan onlinenya bisa pesan melalui Whatapp atau Instragram WALHI sendiri. Selain itu Walhi juga memiliki koperasi dalam sekala besar . Dan saat ini Walhi sedang merancang sistem Market Place dalam bentuk website yang nantinya produk-produk dari manapun dapat masuk dalam website tersebut. Yang produknya sudah bersertifikasi dan kontinuitasnya terjaga, namanya Obalihara saat ini sedang dalam penguatan sistemnya nantinya Website ini seperti market place lainnya seperti Tokopedia , Bukalapak dan sebaginya. Namun market place yang sedang dirancang Walhi dikhususkan pada hasil produksi komunitas di wilayah dampingan WALHI yang produknya sudah tersertifikasi, dan dari kemasannya sudah baik dan tersertifikasi, kwalitas dan kontinuitasnya juga terjaga sehingga pembeli dapat mengorder produk yang ada di market place tersebut.

Contoh Sagu telur yang di tanam di lahan gambut  Sungai Thohor Riau


Untuk Advokasi ada beberapa kasus konflik lahan yang pernah di bantu oleh WALHI salah satunya adalah Sengketa Lahan Gambut Di Sungai Thohor Riau yang memproduksi Sagu Telur. Sengketanya dengan perkebunan sawit yang ingin membuka lahan sawit yang merupakan jenis tanaman monokulture, yang tidak bisa dicampur dengan tanaman lain. Sedangkan di sana produk sagunya sangat berpotensi sekali , karena merupakan daerah produsen sagu cukup besar. Dan jenis-jenis produk sagunya berbagai macam bukan hanya sagu telur tetapi jenis sagu lain yang bisa di buat mie sagu telur, gula sagu dan produk sagu lainnya. Dan kemasan sagunya juga sudah sangat baik , masyarakatnya juga sudah cukup kreatif dalam mengelola produk sagu ini.

Apa yang dilakukan WALHI adalah mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat agar mereka juga paham dengan regulasi yang berlaku sehingga jika ada sengketa lahan mereka dapat melakukan pembelaan atau proses hukum yang legal sehingga mereka dapat membela hak-haknya atas pengelolaan lahan hutan yang memang merupakan hak masyarakat setempat. Selain itu WALHI juga membantu menjembatani antara masyarakat dengan pihak pemerintah sehingga apa yang diinginkan oleh masyarakat bisa disampaikan oleh Walhkepada Pihak Pemerintah. Sejauh ini WALHI sudah ada di 28 Provinsi dari Aceh hingga Papua, masing-masing daerah memiliki permasalahan yang berbeda-beda ada yang permasalahan pertambangan, perkebunan, polusi udara , tata ruang hijau dan sebagainya dan di daerah Riau sendiri permasalah lingkungan yang ada adalah konflik lahan, kebakaran hutan . 


Kanan-kiri : Mbak Titik dan Mas Erwin dari FKKM


Selain WALHI, Lembaga Swadaya Masyarakat yang ikut meramaikan Festival Panen Raya Nusantara 2019 adalah FKKM, menurut Mas Erwin Setiawan FKKM yang merupakan kepanjangan dari Forum Komunikasi  Kehutanan Masyarakat berdiri tahun 1997-1998 yang didirikan oleh Alumni UGM dan kesininya sudah banyak juga yang bergabung dari Alumni IPB Fakultas kehutanan FKKM berkantor pusat di Bogor sedangkan produk-produk yang ditampilkan oleh FKKM dan mitranya antara lain kopi, madu, minyak kayu putih, 

FKKM didirikan dengan tujuan Agar pengelolaan hutan berbasis masyarakat artinya agar masyarakat ikut terlibat dalam pengelolaan hutan terutama kawasan-kawasan konservasi . Menurut Erwin selama ini kesannya masyarakat termarginalkan padahal sejak turun temurun dari nenek moyang mereka tinggal di sana, hidup dari hasil hutan, seperti mengambil madunya, rotannya, tetapi kesannya dikriminalkan karena tidak boleh mengakses hutan.

FKKM di dirikan untuk mendorong agar masyarakat  dapat mengelola  sebagian kawasan hutan karena ada zona-zona hutan yang memang dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat. Khusus untuk pengelolaan kopi wilayah yang sudah didampingi oleh FKKM adalah wilayah Bogor, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Buleleng Bali, Bandung dan Flores. Dan saat ini sedang berjalan di Aceh dan Marauke, untuk di Aceh upaya untuk pelestarian Orang Hutan di Kawasan Swaka Marga Satwa Rawa Singkil yang merupakan habitat orang hutan, sedangkan di Marauke sedang dibangun adalah Desa Perduli Lahan Gambut. Lahan Gambut adalah kawasan yang mudah terbakar , upaya yang dilakukan agar masyarakat setempat tidak mengalihfungsikan lahan gambut dengan perkebunan karena akan berbahaya dan dapat berpotensi terjadinya kebakaran.

Kembali pada pembahasan tentang kopi, Erwin menyampaikan bahwa kopi yang ditampilkan di Festival Panen Raya Nasional 2019 merupakan hasil kopi yang dikelola oleh masyarakat mitra FKKM dari pengelolaan hutan adat, hutan desa atau hutan kawasan konservasi sehingga kopi-kopi yang dihasilkan adalah kopi-kopi yang organik dan  yang ditanam dibawah tegakan pohon yang besar setelah masyarakat mendapatkan izin pengelolaan hutan konservasi namanya yang sudah diregulasikan oleh Pemerintah. Setelah FKKM mendorong masyarakat untuk mengelola kawasan hutan maka hasil kopinya bisa di dinikmati oleh masyarakat .

Sering kali hak pengelolaan hutan diberikan kepada perusahaan namun banyak perusahaan dengan hak konsesinya melakukan penebangan hutan dan merubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini yang tidak FKKM harapkan  karena dengan melakukan penebangan hutan dan menjadikannya sebagai lahan perkebunan seperti kelapa sawit maka akan merusak hutan dan itu akan berpengaruh pada ekosistem yang ada di hutan tersebut serta berpengaruh pada persediaan air di hutan.

Selain itu tumbuhan kopi juga sangat berpengaruh pada ekosistem yang ada disekitarnya sehingga cita rasa kopi yang dihasilkan bisa mengalami perubahan dengan adanya perubahan alam dan ekosistem tempat tumbuhan kopi tumbuh. Misalkan jika di dekat tanaman kopi ada pohon coklat yang tumbuh maka cita rasa dari kopi tersebut ada rasa coklatnya karena tumbuhan kopi menyerap apa yang ada disekitarnya. Sama seperti dengan madu cita rasa madu dapat mengalami perubahan dengan adanya perubahan ekosistem  dan iklim yang ada diwilayah tersebut.

Selain Walhi dan FKKM masih banyak Lembaga Swadaya Masyarakat dan komunitas yang meramaikan acara Festival Panen Raya Nusantara 2019 ini dan banyak sekali produk kerajinan tangan, kain tenun dari berbagai daerah di Nusantara yang unik dan cantik-cantik, sebagai bangsa Indonesia kita patut bangga melihat hasil pangan nusantara kita yang berlimpah ruah serta hasil kerajinan tangannya unik-unik dan menampilkan kekayaan budaya dan seni nusantara. 


Hasil Kerajinan Tangan dan Kain Tenun Dari Kalimantan

Selain pameran pangan nasional dan kerajinan tangan dari berbagai wilayah di nusantara kita juga bisa mengikuti berbagai macam diskusi yang sangat menarik untuk di simak salah satu diskusi yang saya ikuti adalah diskusi dengan tema "Jadikan Pangan Bijak Sebagai Gaya Hidupmu". Nah untuk pembahasan tentang diskusinya akan saya bahas dalam tulisan selanjutnya ya...


Baiklah teman-teman sampai berjumpa di pembahasan selanjutnya ya.., salam...