Thursday, September 13, 2018

Tiga Kata Kunci Deklarasi Poros Hijau Indonesia Minggu,09 September 2018 : Berdaulat , Berkeadilan, Berkelanjutan

Beberapa Deklarator Poros Hijau Indonesia antara lain
 Jalal, Abet Nego Tarigan, Rivani Nur,  M. Hanief Dhakiri , Longgena Ginting,

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, 09 September 2018, saya mendapatkan satu kehormatan menyaksikan secara langsung Deklarasi Lahirnya Poros Hijau Indonesia yang merupakan "Rumah Besar bagi Perorangan, Kelompok Masyarakat atau Organisasi yang mempunyai ide, perhatian dan Aksi Praktis dalam Tata Kelola Pembangunan Berkelanjutan Untuk Kesejahteraan Bangsa dan Negara".

Acara Deklarasi Poros Hijau Indonesia diselenggarakan pada pukul 13.00 Wib yang berlokasi di Bakoel Coffie Jl. Raya Cikini Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri oleh Para Deklarator dari berbagai profesi dan para penggiat lingkungan dari berbagai komunitas yaitu antara lain : Rivani Nur, Abet Nego Tarigan, Longgena Ginting, Wimar Witoelar, Inda Fatinawari, dan masih banyak Deklarator lainnya. Selain itu Deklarasi ini juga dihadiri oleh M.Hanief Dhakiri, Eko Sulistyo, Yanuar Nugroho dan sebagainya.

Di awal acara mba Hening yang merupakan salah satu Deklarator Poros Hijau Indonesia dan sekaligus sebagai moderator dalam diskusi ini menjelaskan kepada para undangan yang hadir sebagai berikut : “Kawan-kawan ini adalah obrolan santai temanya saja tentang Deklarasi tapi bukan berarti kita menyemangatinya dan deklarasi dengan tangan terkepal dan teriak-teriak, bukan seperti itu, tetapi semangat kita jauh melampaui tangan terkepal itu, karena itu ada bara di dalam dada kita masing-masing, tetapi sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Poros Hijau Indonesia ?”. Selanjutnya Mba Hening mempersilahkan Bang Rivani Nur untuk menyampaikan apa yang dimaksud dengan Poros Hijau Indonesia.


Bang Rivani Nur Sedang Memberikan penjelasan Tentang Lahirnya Poros Hijau Indonesia

Bang Rivani Nur menjelaskan bahwa “Poros Hijau Indonesia lahir dari Diskusi diantara teman-teman penggiat Lingkungan Hidup dan juga Sumber Daya Alam. Kita melihat bahwa isue tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup ini adalah isue yang penting dan strategis di negara ini . Ketika dia menjadi isue penting dan strategis semestinya dia menjadi agenda-agenda strategis pembangunan, agenda-agenda strategis dari kebijakan-kebijakan Negara ini”. Kita tahu kalau kita berbicara tentang kebijakan tentu ada proses-proses politik yang harus dilewati baik proses politik formal maupun proses politik informal", Ujar Bang Rivani Nur.

Lebih lanjut Beliau memaparkan : "Sayangnya terkadang di dalam proses-proses seperti ini isue-isue hijau itu alpa dipertimbangkan, itu kadang-kadang juga menjadi sesuatu yang nihil bahkan menjadi sesuatu yang asing di dalam kebijakan-kebijakan politik, keputusan-keputusan strategis di Negara ini. Untuk itu Poros Hijau, teman-teman kemudian berkomitmen ini harus dilakukan sebuah proses yang lebih konsolidatif ,lebih terorganisir, agar lebih baik lagi, karena keputusan politik itu kan bukan sesuatu yang diambil begitu saja tetapi harus ada proses-proses yang dilewati  dan juga harus terkonsolidir juga”.

“Untuk itulah kita dengan semangat yang tinggi walaupun mungkin dengan Sumber Daya yang terbatas karena rata-rata memang orang-orang yang melahirkan Poros Hijau Indonesia Bukan  orang-orang yang sangat paham , sangat getoh atau bahkan rata-rata punya talenta politik yang cukup baik yang selama ini. Kami memang orang-orang yang punya kemampuan untuk melakukan advokasi, punya discost yang mungkin relatif baik dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan tetapi kami juga sadar bahwa di dalam proses politik kami pun harus cukup banyak belajar , untuk itu memang kita berkomitmen bahwa Poros Hijau akan Mengusung Politik Hijau ,kita akan mencoba memformulasikannya lebih baik kedepannya tetapi juga Poros Hijau ini menjadi suatu proses pembelajaran mentranformasikan bagaimana isue-isue lingkungan hidup dan pengelolaan Sumber Daya yang berkelanjutan bisa menjadi agenda srategis di Negara ini”.

Kemudian pertanyaan berikutnya diberikan kepada Bang Longgena Ginting apakah kondisinya memang harus kita punya seperti ini ?. Sebelum Bang Longgena Ginting menjelaskan pentingnya melakukan hal ini, Beliau sedikit bercerita tentang pengalamannya bekerja digerakan Lingkungan Hidup dan Sosial selama 20 Tahun lebih, beliau pernah bekerja di Yayasan Lokal di Samarinda selama 10 Th, kemudian beliau pernah bekerja di WALHI selama 7 Th dan sempat memimpin WALHI Nasional,kemudian pernah bekerja di organisasi Lingkungan Hidup Internasional dan kembali memimpin Green Peace Indonesia. Sebagian hidupnya Beliau habiskan dalam memperjuangkan keadilan ekologis dan sosial di Indonesia. 

Bang Longgena Ginting Sedang menjelaskan tentang Pentingnya Lahirnya Poros hijau Indonesia


“Seperti yang teman-teman lihat permasalahan sehari-hari yang terjadi di Indonesia dan bukan hanya di Indonesia tetapi banyak tempat di dunia, yang kurang mendapatkan perhatian adalah masalah Lingkungan Hidup atau masalah Ekologi. Sementara kita tahu bagaimana situasi lingkungan kita. Kita tidak usah pergi jauh-jauh untuk melihat bagaimana masalah lingkungan yang kita hadapi sehari-hari. Kita tinggal di Jakarta, kita tahu bahwa polusi udara sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.”

“Pemanasan global dan perubahan iklim, selama ini orang-orang masih acuh dengan situasi tersebut padahal kita tahu bahwa kita tidak punya banyak waktu untuk mengerem percepatan perubahan iklim, kita tidak punya banyak waktu untuk menahan laju pemanasan rata-rata Bumi ini tetap di bawah 1,5 Derajat Celcius suhu rata-rata. Namun berdasarkan data IPCC (Intergovermental Panel On Climate Change) yang akan dikeluarkan bulan Oktober 2018 pemanasan rata-rata Bumi sudah mencapai 2 Derajat Celcius, ini sebenarnya sudah merupakan peringatan bagi kita. Kita sudah dapat melihat dimana Bumi kita sudah mencapai 1,5 Derajat Celcius Bumi kita sedang terbakar, coba kita lihat Peta pemanasan Hotspot Noah titik-titik apinya bukan hanya terjadi di Indonesia, di California sudah menjadi langganan kebakaran hutan, di Rusia, Australia sudah menjadi langganan kebakaran hutan ,dan di Eropa sudah mulai terbakar, 'Planet It’s Burning'.

"Kita tahu upaya-upaya untuk menurunkan emisi masih sulit dilakukan karena rendahnya komitmen politik dan bagaimana agenda-agenda pembangunan masih didominasi dengan agenda ekonomi,agenda korporasi, belum lagi masalah lain seperti plastik. Disebutkan bahwa masalah Plastik merupakan masalah kedua setelah perubahan iklim. Kita mendengar jika kebijakan tentang plastik tidak beubah maka tahun 2050 akan banyak plastik di lautan daripada ikan dan sebagainya. Namun kita masih berpikir nanti ada seseorang yang akan mengatasi masalah-masalah tersebut, pemikiran kita belum beubah bahwa sebetulnya itu mindset yang sudah tidak tepat saat ini , sebetulnya yang kita butuhkan adalah aksi yang lebih banyak di lakukan dari berbagai level baik dari individu kita, organisasi baik di Kota, Provinsi, Negara bahkan di Dunia".

"Hal ini tidak akan tercapai kalau kita sebagai warga, sebagai media , sebagai pembayar pajak tidak mengupayakan hal ini dengan kuat, Nah mengapa Poros Hijau Ini menjadi penting ? Karena Saya melihat bahwa Poros Hijau Indonesia akan membangun sebuah platform bersama dimana semua individu, organisasi, kelompok-kelompok, komunitas baik itu teman-teman yang berada diberbagai aliran politik, dan juga di Institusi Sosial, saya yang bergerak di Institusi Sosial menyambut dengan baik karena memang harus ada tempat dimana kita bisa menyatukan bukan hanya suara tetapi juga energi agar masalah lingkungan yang sangat penting ini dapat di atasi dengan dorongan yang kuat".

"Poros Hijau akan menjadi platform, menjadi rumah besar bagi gerakan Lingkungan Indonesia yang akan mengambil peran baik di proses elektoral dan juga melampaui proses-proses elekoral karena masalah lingkungan tidak akan selesai pada proses elektoral tetapi juga beyond elektoral dan bisa membawa suaranya lebih keras , lebih kuat lagi ,  baik kepada Pimpinan Politik di Indonesia maupun kita semua sebagai Bangsa".

"Jadi saya melihat masalah lingkungan ini sangat mendesak, semakin banyak aksi semakin cepat kita dapat mengatasi  masalah lingkungan yang ada sebelum semua terlambat, sebelum semua kerusakan lingkungan dan krisis ekologi tidak dapat dipulihkan. Nah mudah-mudahan ini tidak hanya membangun energi yang besar tetapi memberi harapan dan juga memberi solusi terhadap krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini". Kata kunci dari pemaparan yang disampaikan oleh Bang longgena Ginting ada tiga yaitu:
  • Ekologi sudah semakin kritis
  • Sangat sulit untuk memulihkan kalau kita tidak bersama-sama melakukannya.
  • Kita melahirkan Poros Hijau Indonesia agar ada harapan baru 
"kita mendedikasikan Deklarasi Poros Hijau Indonesia ini untuk membangun harapan baru bergerak bersama untuk mengurangi krisis yang terjadi" Ujar Mba Hening setelah memberikan kesimpulan atas penjelasan dari Bang Longgena Ginting. 

Selanjutnya Mba Hening, menanyakan tentang apa maksud dari tiga kata kunci dari Deklarasi Poros Hijau Indonesia yaitu Berdaulat, Berkeadilan dan Berkelanjutan kepada Bang Abet Nego Tarigan.


Bang Abet Nego Tarigan sedang menjelaskan tentang Tiga Kata Kunci Poros Hijau Indonesia

Menurut Bang Abet Nego Tarigan “ Poros Hijau menjadi penting seperti yang disampaikan oleh Bang Longgena Ginting , bahwa tantangan kita besar sekali , tetapi dalam konteks persoalan lingkungan hidup kita banyak menggunakan paradigma-paradigma menyerahkan persoalan itu kepada orang lain, dan berharap persoalan itu akan diselesaikan oleh orang lain. Oleh karena itu kata Berdaulat menjadi sangat penting, Kami dari 
Poros Hijau Indonesia memandang penting masyarakat ikut terlibat langsung di dalam menjawab krisis ini sebagai bentuk ekspresi kedaulatannya juga atas diri wilayah dan lingkungannya jadi ini sebagai satu upaya bagaimana upaya-upaya perjuangan lingkungan Poros Hijau ini berbasis komunitas”.

“Kemudian yang kedua dimensi Keadilannya, kami melihat diluar kondisinya nampak nyaman, tenang tetapi di balik itu terdapat banyak ketidakadilan, nah oleh karena itu kita tidak cukup hanya berada dalam satu ekosistem dalam satu lingkungan yang nyaman , tenang tetapi sebenarnya tidak ada keadilan didalamnya oleh karena sebab itu dimensi keadilan merupakan sesuatu yang nyata kita butuhkan didalamnya dan berkelanjutan . Kita sekarang dihadapkan dengan banyaknya fenomena-fenomena perubahan-perubahan ini jangka pendek, kita bisa mengatakan ini merupakan solusi pendek yang bisa saja solusi salah oleh sebab itu kita mendorong bagaimana  pemikiran-pemikiran , tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan yang kita dorong sangat mengedepankan keberlanjutan dan kita tahu bahwa Dunia di tingkat global sudah berkomitmen di dalam pembangunan berkelanjutan dan ini merupakan menjadi komitmen global.

Nah terkait dengan Konteks Berdaulat, Berkeadilan dan Berkelanjutan tidak bisa diletakan dalam ruang yang bebas tampa satu gerak bersama, tampa satu pandangan politik yang jelas, tampa satu upaya politik yang jelas juga karena kalau kita hanya letakan seperti itu kita harus siap-siap bahwa berdaulat , berkeadilan dan berkelanjutan yang anda bayangkan itu akan terwujud berdasarkan versi orang lain bukan versi yang kita perjuangkan kita semua. Nah kita memang melihat dalam kontek ini kami melihat ada beberapa milestone yang memang bisa kita gunakan yang terkait dengan kebijakan-kebijakan yang ada.  Kebijakan-kebijakan sudah ada itu antara lain :
  1. Kebijakan Lingkungan Hidup Strategis kebijakan ini keluar pada bulan Oktober 2016 sebagai bagian dari aturan pelaksanaan Undang-undang Perlindungan Dan Pengelolaan lingkungan Tahun 2009. 
  2. Ekosistem Gambut dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Ekosistem Gambut Kebijakan ini keluar tahun 2014 dan diperbaharui tahun 2016.
  3. Restorasi Gambut melalui Peraturan Presiden yang membentuk Badan yang secara khusus melakukan Restorasi Ekosistem Gambut. Pembentukan Badan ini pada bulan Januari 2016.
  4. Kebijakan Ekonomi Lingkungan dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang instrumen Ekonomi lingkungan yang diterbitkan pada bulan November 2017.
  5. Benefecial Ownership Peraturan Presiden terkait dengan keterbukaan pemilik manfaat korporasi atau Benefecial Ownership (BO) Kebijakan diperuntukan untuk mencegah pengalihan aset termasuk didalamnya yang bersumber dari kejahatan lingkungan. Kebijakan ini terbit bulan Maret 2018.
  6. Pencegahan-Pemberantasan Korupsi dengan menerbitkan Peraturan Presiden Tentang Strategi Nasional Pencegahan Dan Pemberantasan Korupsi. Perpres baru ini lebih fokul pada pencegahan korupsi di sektor prioritas pemerintah antara lain Perizinan dan Tata Niaga,
  7. Keuangan Negara, Serta Penegakan Hukum dan Reformasi Birokrasi. Perpres ini berdampak positif terhadap tata kelola perizinan di sektor sumber daya alam. Kebijakan ini terbit pada bulan Juli 2018.
  8. Pemulihan Sungai dengan menerbitkan Peraturan Presiden Percepatan Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum . Kebijakan ini diterbitkan bulan Maret 2018.
  9. Moratorium Izin, Instruksi Presiden tentang penundaan dan penyempurnaan tata kelola pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut. Kebijakan ini merupakan penyempurnaan tata kelola sumber daya alam yang telah ada dan melibatkan komitmen pemerintah daerah. Kebijakan ini terbit bulan Juli 2017.

"Kebijakan Pemerintah bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya alam merupakan aset negara yang harus tetap dijaga keberlanjutannya. Dari seluruh cerita yang saya sampaikan tadi mulai dari kebijakan Peraturan Pemerintah KLHS dan seterusnya  Semua itu produk Kebijakan dan kita tahu bahwa dalam proses kebijakan ada proses politik di dalamnya dan lantas kita yang bekerja di dalam lingkungan  hidup tidak terlibat dalam proses politik itu, kita hanya bisa memberikan saran saja sementara proses politiknya diserahkan kepada mereka. Nah Kita yang berada didalam Poros Hijau Indonesia berharap tidak hanya dapat memberikan saran saja tetapi  dapat mendorong proses politik itu dapat berjalan dengan baik sehingga kebijakan lingkungan itu dapat dilaksanakan dengan baik".

Dengan demikian Poros Hijau Indonesia hadir untuk mendukung dan mendorong terlaksananya kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh Pemerintah Presiden Jokowi dengan melakukan kajian terhadap pelaksanaan kebijakan "Hijau" Pemerintahan Presiden Jokowi untuk memperkuat pelaksanaan dan pencapaiannya oleh Kementerian atau Lembaga baik dipusat maupun di daerah. 

Para Deklarator yang turut hadir dalam acara Deklarasi Lahirnya Poros Hijau Indonesia ini datang dari berbagai profesi dan komunitas ada seniman, pengacara, pemerhati lingkungan, peneliti, tata ruang, dan sebagainya . Mereka bersatu di dalam Poros Hijau Indonesia dengan tujuan dan harapan yang sama. Selain itu Poros Hijau Indonesia juga berperan menyebarkan informasi Program Hijau Presiden Jokowi dan mengelola pendapat publik terhadap program tersebut. Memperkuat agenda lingkungan hidup dan Reformasi Agraria Nawacita 2. 

Demikianlah sedikit pembahasan tentang Deklarasi Poros Hijau Indonesia yang saya hadiri, sampai berjumpa di pembahasan selanjutnya .