Monday, October 17, 2016

Seminar Kesehatan Indera Penglihatan Dengan Tema : Solid Dan Sinergi Mencegah Kebutaan

Dr. Lili. S Sulistyowati Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular

Indera Penglihatan merupakan salah satu organ vital manusia, tanpa indera penglihatan kita akan kesulitan untuk beraktivitas oleh karena itu Pemerintah Indonesia sangat perduli dengan permasalahan penglihatan dan kebutaan yang terjadi saat ini. Dan Dalam menyambut Hari Penglihatan Sedunia 2016 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional menyelenggarakan berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan indera penglihatan.

Dan akhir rangkaian kegiatan peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016 diselenggarakan lah sebuah Seminar Kesehatan Indera Penglihatan dengan tema "Solid Dan Sinergi Mencegah Kebutaan". Seminar ini dilaksanakan di Gedung Suyudi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Auditorium Prof. Dr.G.A Siwabessy, Jl. Rasuna Said kuningan Jakarta Selatan pada tanggal 13 Oktober 2016 yang lalu.
Tempat Di Selenggarakannya Seminar Kesehatan Indra Penglihatan
Acara Seminar Kesehatan Indera Penglihatan seharusnya dibuka oleh Direktur Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit DR.H. Muhamad Subuh, MPPM namun karena ada tugas lain, maka beliau diwakilkan oleh Direktur Pengendalian  dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Dr. Lili. S Sulistyowati.



Seminar  Kesehatan Indera Penglihatan dihadiri pula para undangan Siswa-siswi SLTA dan sederajat beserta Guru Pendampingbeberapa Pejabat Lintas Sektor Seperti dari Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan tamu undangan lainnya.

Sambutan Ketua Panitia Kegiatan Peringatan Hari Penglihatan Sedunia  
Sri Purwanti


Sebelum acara Seminar Kesehatan Indera Penglihatan dibuka maka Kasubdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional Sri Purwanti menyampaikan laporan rangkaian kegiatan peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016  kepada Direktur Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit DR.H. Muhamad Subuh, MPPM yang diwakili oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dr. Lili. S Sulistyowati

Pada awal pembukaan laporannya Sri Purwanti menjelaskan bahwa peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2016 merupakan salah satu bentuk dukungan Pemerintah dalam menunjukan komitmen global vision 2020 Right To Sight yaitu suatu visi untuk mewujudkan kondisi di mana setiap penduduk Indonesia memiliki hak untuk dapat melihat secara optimal, dalam rangka penanggulangan permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia.



Untuk mencapai hal ini maka dibentuklah  Komite Mata Nasional untuk penanggulangan Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan di Indonesia dan mewujudkan Vision 2020 Right To Sight. Selain itu dalam laporannya Sri Purwanti menyampaikan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Subdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2016 yaitu antara lain Menjalin kerjasama lintas sektor, Meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk mendukung peningkatan kesehatan mata masyarakat Indonesia, serta mengintegrasikan upaya promotif dan preventif gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia.

Rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2016 yaitu antara lain :
  1. Lomba Fotografi Tingkat SLTA se Provinsi DKI Jakarta yang berlangsung sejak tanggal 22 September - 5 Oktober 2016.  dan penyerahan hadiahnya tanggal 10 oktober 2016
  2. Melaksanakan Talk Show dengan Radio L'Shinta tanggal 6 Oktober 2016
  3. Temu Media yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan , Direktur Penyakit Tidak Menular, Komite Mata Nasional 7 Oktober 2016
  4. Puncak Acara Deklarasi Komite Mata Nasional Dan konference Video antar Menteri kesehatan Dengan Dinas Kesehatan  Provinsi Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat,Jawa Barat Kepulauan Riau, sulawesi Utara dan DKI Jakarta pada tanggal 10 Oktober 2015. 
  5. Pengumuman pemenang dilaksanakn tanggal 7 Oktober 2016 dan telah diputuskan ada 6 pemenangnya yaitu Juara Harapan 1, 2 dan 3 dan Juara 1, 2 dan 3.
  6. Seminar Kesehatan Indera Penglihatan Untuk Remaja Dan Masyarakat dengan tema "Solid dan Sinergi Mencegah Kebutaan. Dan sekaligus penyerahan hadiah lomba fotografi yang diselenggarakan pada tanggal 13 oktober 2016".      
Demikianlah laporan yang disampaikan oleh Sri Purwanti Kasubdirektorat Gangguan Indera dan Fungsional. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dr. Lili. S. Sulistyowati sekaligus membuka acara Seminar Kesehatan Indera Penglihatan".

Dr. Lili. S Sulistyowati Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular
Dr.Lili menyampaikan bahwa seminar ini diselenggarakan untuk masyarakat awam dan para remaja dalam rangkaian peringatan Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2016, melaksanakan koordinasi dengan lintas sektor dalam penaggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan ,dan juga meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat secara nyata untuk mendukung tercapainya peningkatan kesehatan mata masyarakat Indonesia. Dr.Lili juga menghimbau kepada para peserta seminar yang masih remaja untuk menjaga kesehatan matanya karena mata adalah jendela dunia.

Derajat kesehatan masyarakat dan kualitas hidup manusia sangat dipengaruhi oleh berfungsinya panca indera, tidak berfungsinya salah satu panca indera dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah gangguan penglihatan dan kebutaan. Saat ini diperkirakan  sekitar 1 juta penduduk Indonesia yang mengalami kebutaan dengan penyebab utama nya adalah katarak, selain itu kelainan Repati sebagai salah satu penyebab gangguan penglihatan, selain itu ada penyakit mata lain yang dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan seperti Glaukoma dan Diabetik Retinophaty seseorang yang terkena diabetes pada umumnya bisa terkena Diabetik Retinophaty. 

Masalah ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mengatasinya agar tujuan pembangunan manusia Indonesia dapat menciptakan bangsa Indonesia yang sehat, berkualitas, produktif,mandiri,  mempunyai daya saing kehidupan sosial yang tinggi, oleh karena itu seluruh masyarakat Indonesia perlu mendukung upaya untuk mewujudkan Vision 2020 Right To Sight yaitu upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan agar setiap orang dapat melihat.

Selanjutnya Dr. Lili menjelaskan bahwa saat ini banyak orang tua dan anak-anak yang sudah ketergantungan dengan Teknologi komunikasi dan sebagian besar masyarakat kita memakai gadget Dr. Lili juga menyadari bahwa beliau sendiri pengguna gadget yang sangat luar biasa, penggunaan gadget yang berlebihan akan ada efek yang kemudian timbul gangguan mata seperti seperti kelainan refraksi , selain itu meningkatnya penggunaan kacamata di kalangan anak-anak di usia sekolah, paparan radiasi dari penggunaan gadget dapat berdampak kelainan retinopathy .

Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa meningkatnya penggunaan komputer dan gadget  adalah berjalan berbanding lurus dengan meningkatnya kejadian rabun jauh kondisi ini perlu mendapatkan perhatian kita semua agar penggunaan alat-alat elektronik pada anak-anak tidak mempengaruhi kemampuan mereka dalam menyerap pelajaran.  
 
Selain itu Dr. Lili juga menjelaskan upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia dilakukan dengan cara melakukan upaya-upaya proaktif dan prefentif dengan pendekatan pengendalian faktor resiko dengan melakukan screening atau deteksi gangguan penglihatan dan kebutaan pada kelompok resiko serta penguatan akses masyarakat pada layanan kesehatan yang komprehensif dqa menyeluruh, dengan melakukan sceening atau deteksi di harapkan dapat dilakukan tindakan secara dini yang efektif dan untuk mencegah terjadinya kebutaan. Layanan ini perlu diperkuat dengan adanya rujukan dan fasilitas layanan kesehatan yang memadai. 

Upaya pemerintah dalam mengatasi gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia tidak dapat berjalan  tanpa dukungan  dari seluruh lapisan masyarakat dan kalangan usaha. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini Dr. Lili menghimbau kepada organisasi profesi, organisasi masyarakat dan kalangan usaha agar mengambil peran dalam penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia.

Upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat dan dunia usaha contohnya menyediakan kacamata gratis bagi anak-anak kita yang mengalami gangguan refraksi , upaya lain memperkuat jaringan pelayanan kesehatan dengan melakukan operasi gratis bagi pasien katarak, dan melakukan screening dan deteksi dini gangguan penglihatan dengan bekerja sama dengan layanan kesehatan baik puskesmas maupun rumah Sakit. Selain itu untuk masyarakat dapat melakukan tindakan preventif atau pencegahan untuk mencegah  terjadinya gangguan penglihatan dan kebutaan, maka masyarakat harus pintar yaitu :
  1. Periksa Kesehatan Mata secara berkala
  2. Istirahat yang cukup agar mata tidak lelah
  3. Nikmati waktu bersama keluarga tanpa menggunakan gedget
  4. Tidak melakukan kegiatan yang kurang bqaik bagi kesehatan mata,
  5. Hidup sehat tanpa rokok karena roko dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan
  6. Memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran yang sangat baik untuk kesehatan mata.
Demikianlah sambutan yang disampaikan oleh Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit tidak Menular Dr. Lili. S Sulistyowati dan sekaligus membuka secara resmi Seminar Kesehatan Indera Penglihatan. Acara selanjutnya adalah pemberian plakat kepada beberapa pejabat lintas sektoral yang langsung di berikan oleh Dr. Lili dan penyerahan hadiah lomba fotografi kepada 6 (enam) orang pemenang yang terdiri dari Harapan 1. 2 dan 3 serta Juara 1, 2, 3
 
Penyerahan Plakat kepada Lintas Sektoral
Para Pemenang  Lomba Fotografi GHaraian 1, 2 dan 3
Foto Bersama Para Pemenang Lomba Foto Grafi tingkat SLTA dengan Dr.Lili. S Sulistyowati
Acara Selanjutnya adalah hiburan berupa tarian Betawi yang dipersembahkan oleh Sanggar Tari 99 . Setelah itu seminar dilanjutkan dengan materi pertama yang dibawakan oleh Dr. Gitalisa Andayani Adriono, SpM(K) dengan judul "Pencegahan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Indonesia"
Dr. Gitalisa Andayani Adriono, SpM(K)
 Dr. Gitalisa memaparkan berdasarkan fakta yang ada 285 juta orang mengalami gangguan penglihatan di seluruh dunia  yang terdiri dari 39 juta kebutaan dan 246 juta Low Vision. 90% gangguan penglihatan tejadi di wilayah penduduk berpenghasilan rendah. 80 % kebutaan terjadi pada usia 50 tahun atau lebih. Indonesia menempati posisi ke 2 (dua) tingkat kebutaan tertinggi di dunia setelah negara Ethiopia.
Lebih lanjut lagi Dr. Gitalisa menjelaskan bahwa penyebab utama kebutaan yang terjadi saat ini disebabkan oleh :
  1. Catarct Refractive Errors sekitar 60 %
  2. Trachoma Vit. A deficiency Onchocerciasis 15%
  3. Diabetic Retinophty , Glaucoma 15%
  4. AMD and other diseases 10%  
Permasalahan yang ada di Indonesia sehubungan dengan gangguan penglihatan dan kebutaan adalah 
  1. Tingkat kebutaan tertinggi nomor 2 di dunia setelah Ethiopia
  2. Di Indonesia banyak sekali permasalahan kesehatan yang harus  segera ditangani sehingga masalah gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia bukan menjadi prioritas utama kesehatan di indonesia.
  3. Hingga saat ini belum ada program terpadu yang di buat untuk mengatasi masalah gangguan penglihatan dan kebutaan di indonesia.
  4. Belum adanya koordinasi untuk mengatasi persoalan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia sehingga perlu dibuat wadah untuk mengkoordinir seluruh elemen masyarakat untuk membantu memnyelesaikan masalah gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia.
Untuk melakukan penanganan permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia pemerintah tidak dapat berjalan sendirian , seluruh organisasi dan elemen masyarakat harus membantu pemerintah dalam menangani permasalahan Penglihatan dan kebutaan di Indonesia, oleh karena itu Kementrian Kesehatan Republik Indonesia  Pemerintah mengambil inisiatif untuk mendirikan Komite Mata Nesional sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor  HK.02.02/MENKES/155/2015 tentang Komite Mata Nasional  untuk Penanggulangan Gangguan Penglihatan  Dan Kebutaan.
Yang melatar belakangi dibentuknya Komite Mata Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan adalah :
  • Angka Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Indonesia salah satunya yang tertinggi di dunia
  • Keinginan untuk mewujudkan Vision 2020  The Right to Sight
  • Ingin menyelesaikan Global Action plan 2014-2019 yaitu menurunkan angka Gangguan Penglihatan dan Kebutaan  sebanyak 25% dari baseline data tahun 2010.   
Komite Mata Nasional mewadahi seluruh element masyarakat untuk saling bahu-membahu mengatasi permasalahan gangguan penglihat dan kebutaan di Indonesia.
Seluruh Elemen masyarakat dapat ikut ambil bagian dalam Komite Mata Nasional
Indikator dari Program Penganggulangan Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan adalah :
  1. Ketersediaan Data Gangguan penglihatan dan kebutaan
  2. Ketersediaan Sumber daya kesehatan  dan non kesehatan
  3. Peningkatan jumlah operasi katar 
Berikut ini penjabaran dari indikator Komnas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di indonesia :
  • Ketersediaan data
  1.  RAAB
  2. Data Prevalensi
  3. Identifikasi Masalah
  4. Breakdown Target Program Sampai tingkat Prime
  • Sumberdaya Manusia
  1. Tersedianya Dokter Spesialis Mata di tingkat Kabupaten atau Kota
  2. Perawat Mahir Mata dan Refraksionis Optisi Tingkat Kabupaten atau Kota
  3. Perawat Mata Masyarakat di Tingkat Primer/Puskesmas
  4. Potensi Masyarakat/Kader di Tingkat Posyandu/Posbind
  • Peningkatan operasi Katarak
  1. Peningkatan Pemenuan kasus
  2. Rujukan yang berkualitas dan tingkat puskesmas
  3. Ketersediaan Peralatan dan Instrument Operasi Katarak
  4.  Peningkatan keahlian Dokter Spesialis Mata
  5. Meningkatnya Volume dan kualitas operasi operasi katarak  
  6. Manajemen  
Permasalahan gangguan penglihatan dan kebutaan yang dialami oleh sebagian besar wilayah di Indonesia di sebabkan oleh katarak. untuk merealisasikan Global Action Plan 2014-2019 yaitu menurunkan angka Gangguan Penglihatan dan Kebutaan  sebanyak 25% maka langkah-langhkah yang dilakukan adalah :
  1. Collect Evidence yaitu mengumpulkan bukti-bukti atau data-data
  2. Train More Eyes care professionals
  3. Provide Comprehensive eyes care
  4. Eliminate Social and Economic obstracl
Acara seminar dilanjutkan dengan Pemaparan Materi ke 2  (dua) dengan tema "Prilaku Sehat Mencegah Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan beliau adalah dra. Ratih Iberahim,M.M Psikologi.
Dra. Ratih Ibrahim, M.M psikologi

Menurut Ratih Ibrahim, Fakta menunjukan penggunaan Gadget pada anak adalah sebagai berikut :
  1. 40% anak di usia 2-4 tahun sudah menggunakan smartphone , iped, atau gadget yang serupa lainnya.
  2. 90% orang tua mengatakan bahwa anaknya sudah terpapar dengan layar gadget sejak berusia 2 tahun
  3. Berdasarkan Kaiser Family Foudation menyatakan bahwa dalam satu hari rata-rata anak menggunakan waktu sebanyak 7,5 jam melihat kelayar gadget.
  4. Anak usia Sekolah menghabiskan 6 jam/hari mengkonsumsi media (nonton film,TV, nonton drama, bermain game, media sosial)
  5. Remaja menghabiskan 9 Jam setiap hari mengkonsumsi media.
  6. 67% remaja sudah mempunyai smartphonenya sendiri, 53 % Anak usia sekolah sudah memiliki tablet sendiri.    
Ratih Ibrahim menjelaskan definisi remaja adalah :"suatu periode transisi dari masa anak-anak menjadi dewasa yang melibatkan perubahan fisik, kognitif dan sosioemosional.  Fese remaja di mulai saat anak perempuan berusia 11-15 Tahun dan laki-laki 13-16 Tahun. Fase remaja ditandai saat anak memasuki masa pubertas.
 
Tugas perkembangan Remaja adalah :
  1. Memahami dan menerima perubahan yang terjadi di dalam diri
  2. Memahami dan menerima peran gender (maskulin dan feminim)
  3. Mampu membina hubungan baik dengan laki-laki dan perempuan
  4. Mengembangkan kemampuan dan potensi diri
  5. Mengembangkan nilai diri (mandiri, disiplin, tanggungjawab,) sebagai proses kedewasaan. 
Hal terpenting yang dilakukan oleh Remaja adalah menjalin hubungan sosial dengan teman. sedangkan media yang digunakan adalah gadget dan teknologi. Kegunaan Gadget bagi remaja adalah :
  1. Kunci kehidupan sosial, sms/ chat
  2. Hiburan , untuk media sosial, email dll.
  3. Memberi Kebebasan , memberi kemudahan banyak hal
  4. Memberi Keamanan, mendapatkan transportasi, mencari informasi
Dampak penggunaan Gadget yang terus menerus pada Fisik yaitu antara lain :
  1. Mata Belor
  2. Postur tubuh jelek (membungkuk)  
  3. Taxt Claw (keram dan nyeri otot kaki)
  4. Taxt Nack (Terlalu lama menunduk)
  5. Computer vision Syndrome  ( mata lelah, pandangan mengabur) 
Sedangkan dampaknya secara sosial yaitu antara lain :
  1. Phone Snubbing yaitu menyakiti lawan bicara, karena menggunakan gadget
  2. Short Attantion Span yaitu tidak memahami informasi yang disampaikan karena terdistrak gadget
  3. Terisolasi dari lingkungan karena terlalu fokus dengan gadget. 
Apa yang harus dilakukan jika hal yang menakutkan di atas tidak terjadi pada para remaja :
  1. Makan makanan bergizi
  2. Tidur cukup dan teratur
  3. Olahraga teratur 
Dan mulailah kita membatasi penggunaan gadget dengan cara sebagai berikut:
  1. Hidup tidak dikuasai gadget
  2. Orang tua menjadi role model penggunaan gadget  
  3. Buat screen time
  4. usia 0-2 tahun jangan berikan gadget, usia 2 tahun ke atas   1-2 jam/hari, 10-13 tahun : 2 jam/hari 
Apa yang harus kita perbuat ? lakukanlah pencegahan karena  mencegah lebih baik daripada mengobati , dan pergunakan otak kita sebagai gadget, karena otak manusia merupakan gadget terbaik yang dianugrahkan Tuhan kepada kita semua. lakukanlah aktivitas diluar rumah, bersosialisasilah dan banyak mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi sehingga tubuh akan terasa lebih sehat dan kita siap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sampai berjumpa di pembahasan selanjutnya, salam 

    4 comments:

    1. Duh anak saya nih sdh mulai susah lepas dr gadget.... kayaknya sdh harus mengambil langkah ya... menuju perubahan yg lbh baik

      ReplyDelete
      Replies
      1. Betul mba Rita, kalau kita membiarkannya terlalu lama bermain dgn gadget kasihan sama matanya, rimakasi atas kunjungannya ya^^

        Delete
    2. Kalau anak-anak, saya batasi penggunaan gadget. Hanya di hari libur saja. Itupun tidak sepanjang hari. Cuma kalau pas kumpul sama keluarga besar yang susah. Semua pada pegang gadget.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Memang agak sulit menerapkannya karenah diLingkungan sekitar sudah banyak anak-anak yg ketergantungan dgn gadget, namun kita harus mencobanya, sebelum terlambat ya mba Nur, Trimakasih atas kunjungannya^^

        Delete

    Selamat Datang Di blog ini, silahkan sahabat meninggalkan jejaknya dan Trimakasih atas kunjungannya ya ^_^