Thursday, June 16, 2016

Diskusi Bersama Kementerian LHK RI : Membangun Partisipasi Publik Dalam Mengelola Perubahan Iklim Senin, 13 Juni 2016



Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Ibu Dr. Ir  Siti Nurbaya Bakar M. Sc
Suatu hari saya pernah mengalami peristiwa yang cukup ekstrim seperti ini, ketika hendak pulang kerja hujan turun cukup deras di wilayah Kebayoran Baru Jakarta Selatan, hingga pakaian saya basah kuyup dan terpaksa berdingin-dingin ria di dalam angkutan umum, namun ketika angkutan umum memasuki wilayah Ciledug, hujan turun rintik-rintik, bahkan sesampainya di rumah tidak turun hujan sama-sekali. Peristiwa ini menunjukan bahwa iklim kita sudah mengalami perubahan yang sangat ekstrim, namun sayangnya masih banyak masyarakat yang tidak menyadari hal ini.

Perubahan Iklim yang cukup ekstrim yang kita alami saat ini adalah musim hujan yang tidak menentu. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan Iklim Tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu Musim Hujan dan Musim Panas. Siklusnya untuk Musim Panas sekitar bulan April-September dan Musim Hujan sekitar bulan Oktober-Maret, namun saat ini siklus musim hujan dan panas sudah mengalami perubahan yang cukup ekstrim, seharusnya bulan ini kita memasuki musim panas, namun ternyata di bulan ini saja masih sering turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

Perubahan iklim yang ekstrim ini merupakan akibat dari pemanasan global yang terjadi di bumi, hal ini dapat terjadi karena sebagian besar akibat dari aktifitas manusia, seperti, efek rumah kaca, pembakaran hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, penebangan hutan secara liar,  asap dari industri pabrik , asap dari kendaraan bermotor, pembangkit tenaga listrik, pembakaran sampah anorganik seperti plastik, ban kendaraan bermotor, sterofoam dan sebagainya.
Kebakaran hutan yang sering terjadi beberapa tahun belakangan ini





Penebangan Hutan secara liar marak terjadi di pulau Sumatra, kalimantan, Jawa




















Selain terjadinya perubahan cuaca yang tidak menentu dampak dari perubahan Iklim yang cukup ekstrim adalah turunnya badai saju di sebagain besar negara bagian Amerika Serikat pada bulan Desember hingga Januari tahun lalu, Banjir yang menggenangi beberapa wilayah di Indonesia serta fenomena-fenomena alam yang cukup ekstrim yang terjadi di berbagai negara di Dunia.

Kondisi inilah yang mendorongan Kementrian lingkungan Hidup Dan Kehutanan menyelenggarakan  Acara Diskusi  dengan tema "Membangun Partisipasi Publik Dalam Mengelola Perubahan Iklim" sekaligus Buka Puasa Bersama yang di hadiri Ibu Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Dr. Ir . Siti Nurbaya Bakar, M.Sc berserta para pejabat di Kementerian LHK, para Tamu Undangan, serta Netizen dan Media 




Diskusi ini diselenggarakan pada Hari Senin, tanggal 13 Juni 2016 yang lalu, bertepat di  Auditorium Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti Jakarta . Acara ini di buka oleh Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan dan dilanjutkan dengan diskusi yang di moderatori oleh Bapak Imam B. Prasodjo.Saya merasa beruntung sekali karena dapat menghadiri acara tersebut.

Bpk Imam B Prasodjo
Dalam kesempatan ini Bapak Iman menggulirkan satu Topik Pembahasan Diskusi dengan judul " Hidup Di Iklim Yang Berubah". Beliau memaparkan bahwa Perubahan Iklim sudah  ini sudah sangat memprihatinkan. bahkan majalah Kompas sempat membuat artikel mengenai dampak dari perubahan iklim ini yang terjadi di Indonesia menurut artikel ini karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi maka Indonesia akan menghadapi Kemarau Basah

Salah Satu Artikel Koran Kompas Mengenai Dampak dari Perubahan iklim

Dan Prakiraan Cuaca di sebagian besar Wilayah Indonesia selama tahun 2016 masih akan terus di guyur  hujan dengan intensitas yang bervariasi hingga akhir tahun 2016.

Prakiraan Cuaca di Wilayah Indonesia selama tahun 2016

Dan sejak tahun 1990 para ilmuwan di seluruh dunia telah sepakat bahwa Pemanasan Global adalah ancaman besar pada abad 21 Mengapa ? Apa yang sesungguhnya terjadi?. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya karena efek rumah kaca, pembakaran hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan, penebangan pohon secara liar, penggunaan AC, asap yang di timbulkan dari industri, emisi pembakaran bahan bakar seperti tenaga listrik, mobil, pesawat , sampah yang di buang sembarangan dan pembakaran sampah anorganik dan lain sebagainya merupakan penyebab terjadinya pemanasan global.

Gas pembakaran bahan bakar Kendaraan Bermotor salah satu penyebab terjadinya pemanasan global

Apabila jumlah Karbon dioksida, uap air dan metana meningkat di atmosfir maka bumi dapat berubah menjadi rumah kaca raksasa yang menyerap panas. Sehingga dampaknya udara di malam hari semakin terasa panas.

Apabila karbondioksida Berlebihan di atmosfier



























Dampaknya dari atmosfer  yang menebal udara semakin panas

Akibat  lain dari pemanasan global adalah melelehnya es di kutub Selatan dan Utara akibatknya permukaan air laut akan meningkat dan dampak terburuknya adalah beberapa pulau di Indonesia dan di beberapa negara di dunia akan tenggelam.  Melihat fenomena ini maka pada tahun 2015 dilaksanakanlah Konfrensi Perubahan Iklim di kota Paris Prancis Pada tanggal 12 Desember 2015.  Sekitar  196 negara peserta menyepakati  naskah akhir dari sebuah pakta global untuk mengurangi emisi sebagai bagian dari metode pengurangan gas rumah kaca . Dalam 12 halaman  persetujuan Paris para negara anggota sepakat untuk mengurangi produksi karbon mereka "secepat mungkin" dan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan Pemanasan Global agar berada jauh di bawah 2 derajat C". Laurent Fabius, Menteri Luar Negeri Perancis, mengatakan bahwa rencana yang "ambisius dan seimbang" ini merupakan suatu "titik balik bersejarah" dengan tujuan mengurangi pemanasan global.                                                                                            (https://id.wikipedia.org/wiki/Konferensi_Perubahan_Iklim_Perserikatan_Bangsa-Bangsa_2015)

Nah, untuk di Indonesia sendiri apa yang diharapkan ? Dalam obrolan singkatnya sebelum menjelang buka puasa bersama Ibu Menteri Siti Nurbaya mengharapkan peran serta dari masyarakat khususunya dari para Netizen dan Media untuk sama-sama membangun kesadaran masyarakat luas  melalau media cetak maupun online,  bahwa saat ini kita harus mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan bumi dari bencana yang lebih besar akibat dari perubahan iklim ini, caranya adalah dengan memberikan edukasi dan contoh kepada masyarakat secara kongkrit dan langsung. Selain itu Beliau juga meminta saran dan pendapat dari para peserta diskusi untuk mengatasi permasalahan ini sehingga dari beberapa komunitas memunculkan ide-ide yang cukup efektif yaitu antara lain dengan mematikan kendaraan saat mengisi bahan bakar, memanfaatkan sepeda sebagai transportasi ramah lingkungan, hingga ide untuk mengkantongi sampah sehingga sampah tersebut dapat di buang di tempat sampah.

Saya rasa ide-ide yang digulirkan cukup menarik dan bisa sedikit membantu mengurangi pencemaran udara, namun menurut saya semua pihak harus terlibat untuk menyelamatkan bumi bukan hanya pemerintah namun juga para pelaku industri, praktisi, ilmuwan, para pengelola daur ulang sampah dan masyarakat  harus bahu membahu untuk menciptakan industri yang ramah lingkungan, melakukan pengelolaan sampah dengan baik, dan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, jika perlu di buat aturan yang tegas bagi mereka yang melanggar peraturan tersebut. Jika semua pihak ikut mengambil bagian maka mudah-mudahan bumi dapat kita selamatkan dari kehancuran.Semoga Acara ini merupakan langkah awal pembuka yang baik untuk menciptakan langkah-langkah selanjutnya yang lebih nyata dan mengena di seluruh lini masyarakat. 

Trimakasih bunda Elisa Koraag dan Blogger Cihuy yang memeberikan kesempatan kepada saya untuk ikut hadir dalam acara Buka Bersama dan diskusi kali ini, semoga pengetahuan yang saya dapatkan bisa di terapkan dalam aktifitas saya di masyarakat.

Sampai berjumpa di acara selanjutnya. salam....




1 comment:

Selamat Datang Di blog ini, silahkan sahabat meninggalkan jejaknya dan Trimakasih atas kunjungannya ya ^_^