Wednesday, May 6, 2015

Belajar Memahami Anak

earlydianthie.blogspot.com


Saya tumbuh dan berkembang dalam pola pendidikan jaman dulu, dimana Ayah saya Almarhum mendidik kami dengan sangat keras. Walaupun saya terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga namun Ayah saya tidak pernah membeda-bedakan cara mendidik antara saya dengan kedua adik saya yang laki-laki. Jika satu kena marah yang lain pun ikut kena marah juga apalagi saya sebagai kakak tertua paling sering kena marah kalau tidak bisa menjaga adik-adik.

Saya baru memahami sikap tegas Almarhum Ayah setelah saya menjadi seorang Ibu. Setiap orang tua pasti ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi putera dan putri mereka, baik dari segi pendidikan formal, akhlak dan moral. Namun setiap orang tua mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menyampaikannya kepada anak-anak mereka.

Cara penyampaian mereka kepada anak-anak ini mereka dapatkan dari pola asuh dan didik yang mereka juga dapatkan dari orang tua mereka serta lingkungan di mana mereka dibesarkan. Jadi bisa saja saat Ayah saya mendidik saya dengan keras dan tegas beliau dapatkan dari orang tua beliau atau lingkungan di mana beliau dibesarkan.

Dan hal itu akan terulang kembali kepada saya, ketika saya mendidik anak saya. Namun persoalanya adalah apakah pola  asuh dan didik seperti itu masih bisa di terapkan pada saat ini ? Jika kita amati bersama anak-anak pada zaman sekarang sudah tidak bisa dididik dengan cara otoriter seperti dulu. Karena saat ini anak-anak sudah semakin pintar dan maju karena di dukung tehnologi informasi modern sehingga pola berpikir mereka pun sudah berkembang pesat.

Anak-anak pada saat ini tidak bisa dimarahi begitu saja tanpa mereka tahu apa sebabnya mereka dimarahi. Berbeda sekali dengan zaman kita dulu saat orang tua marah kita tidak berani untuk menjawab satu patah kata pun. Jadi pola asuh dan didik pun harus mulai dirubah, ketika kita melarang mereka untuk melakukan sesuatu hal mereka harus tahu dulu mengapa mereka dilarang melakukannya. Sehingga dalam memberikan pemahaman kepada anak pun orang tua lebih menggunakan pendekatan layaknya sahabat atau teman dari pada memposisikan  diri mereka sebagai orang tua.

Tapi hal ini memang tidak mudah dilakukan, karena itu tadi pola pendidikan yang kita terima pada saat kita anak-anak berbeda dengan pola pendidikan yang anak-anak kita dapatkan saat ini. Sehingga tidak jarang antara orang tua dan anak sering kali bentrok yang menyebabkan anak-anak kita menjadi pemberontak kecil. Kita berharap kejadian ini tidak terjadi kepada putera dan putri kita kan ? oleh karena itu saya merasa bahwa kita orang tua harus Belajar Memahami Anak.

Belajar memahami anak adalah bagai mana kita orang tua belajar memahami jiwa anak-anak kita, apa yang mereka inginkan, apa yang mereka cita-citakan, apa yang mereka sukai dan apa yang mereka benci. Saya kembali bertanya kepada diri sendiri sudahkah saya memahami keinginan anak saya ? Apa yang tidak  disukai anak saya dan apa yang paling ia sukai ?.

Pernahkah ibu-ibu dan bapak bapak temui putra putri kita uring-uringan dan marah-marah yang tidak jelas?. Mungkin ada yang mereka ingin utarakan kepada kita tapi mereka takut kalau kita marah kepada mereka. Saya menjadi terpikir kembali bagaimana pandangan mereka terhadap kita para orang tua ? . Apakah kita termasuk orang tua yang menyenangkan ? atau orang tua yang menakutkan bagi mereka ? Apakah kita ingin dicintai  dan dihargai oleh putra putri kita? atau ditakuti oleh mereka ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan terus timbul di dalam pikiran saya dan saya berharap saya bisa menjadi orang tua yang di cintai dan di hargai bukan di takuti.Oleh karena itu kita harus terus belajar dan terus mencari metode terbaik dalam mengasuh dan mendidik putera putri kita. Jangan pernah bosan untuk bertanya kepada para Ahlinya dan jangan pernah ragu untuk merubah pola mendidik kita karena kita memang harus menjadi orang tua yang cerdas dan mau belajar demi memberikan pendidikan yang optimal demi perkembangan moral, akhlak dan pengetahuan putera-putri tercinta.












Tuesday, May 5, 2015

Hidup Ini Terlalu berharga Untuk Di Sia-Siakan

earlydianthie.blogspot.com




Tak terasa tahun ini saya akan mencapai usia 39 tahun. Usia yang tak lagi terbilang muda, hampir mencapai 40 tahun. Namun saya merasa masih banyak hal yang belum saya capai hingga sampai saat ini. Baik di bidang karier apalagi dalam hal berumah tangga,  karena saya sadari saya termasuk orang yang gagal dalam membina rumah tangga.

 Tapi kegagalan itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup saya, melainkan  awal memulai kehidupan baru yaitu kehidupan sebagai Orang Tua Tunggal  atau Single Parent. Menjadi orang tua tunggal bukanlah hal yang mudah, banyak suka dan duka yang harus saya lalui. Pergolakan batin, kemarahan, kebencian kepada mantan suami itu pernah ada. Dan butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk bangkit dari keterpurukan itu karena pada akhirnya saya tersadarkan  bahwa saya masih punya seseorang yang harus saya didik dengan baik, yaitu putra semata wayang saya. Dia adalah alasan kuat bagi saya untuk bangkit dari kegagalan yang saya alami, dan karena ia juga semangat hidup saya kembali menyala. 

Saya seperti tersadar dari tidur yang panjang, saat saya  menyadari bahwa selama ini, saya terlalu tenggelam dalam persoalan hidup. Padahal hidup itu begitu indah dan sangat berharga untuk disia-siakan mengapa saya membuang-buang waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting ?. Tapi penyesalan tiada berguna dan  kini saatnya saya untuk bangkit dan berubah.

Perubahan itu memang tidak datang dalam sekejap mata, semua membutuhkan  proses yang panjang dan beruntungnya saya, dalam proses perubahan itu saya bertemu dengan sahabat-sahabat  yang tak pernah bosan memberikan  semangat dan dukungan moral kepada saya. Bagi saya mereka adalah energi positif yang di hembuskan Allah SWT ke dalam hidup saya. 

Bagi saya sahabat yang sejati adalah seseorang yang selalu memberikan api dan semangat di dalam hidup saya. Mereka tidak akan selalu memberikan pujian kepada saya tapi omelan, sentilan bahkan keritik pedas sekalipun  akan selalu saya harapkan karena saya merasa diperhatikan dan disayang oleh mereka dan   itu adalah hal yang paling membahagiakan untuk saya.

Foto bersama setelah tampil memebacakan puisi

Karena semangat dan dorongan itulah saya telah sampai pada titik ini dan saya sangat berterimakasih kepada semua sahabat yang selalu menggandeng tangan saya, tanpa mereka saya bukanlah apa-apa dan siapa-siapa dan kebersamaan bersama mereka adalah harta yang paling berharga.

Inilah hal yang paling menyenangkan foto bersama

Dimanapun kami selalu ceria


Momen-momen seperti inilah yang membuat  pikiran  saya semakin terbuka dan berpikir bahwa masih banyak yang bisa saya lakukan dalam hidup ini, melakukan hal yang positif dan bermanfaat jauh lebih baik dari pada terbelenggu oleh persoalan hidup karena didalam setiap kesulitan yang kita hadapi Allah akan selalu memberikan jalan keluarnya bagi orang-orang yang percaya dan mau bersabar. Semangattttt..........!!!!