Saturday, November 29, 2014

Apa Resolusimu Di Tahun 2015??!

Tak terasa satu bulan lagi tahun 2014 akan segera meninggalkan kita. Banyak hal yang telah kita lalui selama 11 bulan belakangan ini, namun banyak juga cita-cita dan harapan yang belum tercapai hingga saat ini .

Saya sendiripun mengalami hal ini, selama 11 bulan belakangan ini saya belajar banyak hal yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT karena saya di perkenankan untuk bertemu orang-orang sukses di bidangnya masing-masing dan dapat mengenal dunia luar, dunia yang sebelumnya hanya ada di dalam angan-angan saya saja.

Semua ini dapat saya alami berkat hubungan persahabatan dan pertemanan yang baik dalam berkomunitas. Di dalam komunitaslah saya belajar untuk memberi dan menerima dan berkat berkomunitas lah saya kembali punya angan-angan dan cita-cita.

Harapan dan cita-cita saya tidaklah muluk-muluk, saya hanya ingin membuat orang lain bahagia dan gembira melalui karya-karya yang saya hasikan dan saya juga berharap dapat berbagi ilmu dan pengetahuan dengan orang lain, karena hanya itulah satu-satunya warisan yang bisa saya berikan untuk generasi muda, generasi harapan bangsa di masa yang akan datang.

Friday, November 28, 2014

Ketika Kerinduan Itu Datang...

Jika ada yang bertanya kepada saya "Apa yang membuat saya paling rindukan di dunia ini ?!" . Jawabannya adalah saya ingin sekali kembali ke masa kecil dulu, di saat orang-orang yang saya cintai masih ada sekitar saya seperti ayah, nenek, paman serta tante-tante saya. Karena mereka telah meninggakan banyak kenangan yang indah untuk saya yang tak kan bisa terlupakan sepanjang masa.

Seperti halnya nenek saya dari pihak ayah, saya sangat dekat dengan beliau. Karena semasa kecil saya dulu kami tinggal di rumah nenek. Rumahnya sederhana bergaya betawi jaman dulu. Beliau sejak muda sudah berdagang karena harus menghidupi ke-10 anak-anaknya yang masih sekolah dan kecil-kecil sebab kakek telah meninggal terlebih dahulu.

Saya melihat betapa besar perjuangan nenek pada saat itu, sebagai single parent beliau bekerja tak kenal lelah demi memberikan kehidupan dan pendidikan yang terbaik bagi putra dan putrinya. Saya merasa malu kepada diri saya sendiri jika mengingat hal ini. Kenapa nenek bisa melakukanya sedangkan saya sering mengeluh menghadapi kondisi yang sama. Saya memang seorang single parent seperti nenek, tapi saya belum berhasil menata hidup saya padahal kondisi nenek saat itu jauh lebih parah dari kondisi saya saat ini.

Saya harus belajar banyak dari kenangan masa lalu, bukan sebagai hal yang harus ditangisi namun untuk dijadikan pelajaran hidup untuk masa depan. Terimakasih banyak nenek sayang, atas pelajaran kehidupan yang telah nenek berikan. I Love You so much....

Tuesday, November 18, 2014

Kamu Tidak Sendirian Teman.. ..!!!

Saya teringat Kembali dengan sebuah lagu  lawas yang dinyanyikan oleh Almarhum Michelle Jackson yang Berjudul " You Aren't Alone " . Dalam satu baitnya ada kata-kata seperti ini , "You are not alone I'm here with you" . Jika saya mendengar kembali kata-kata ini hati saya merasa terenyuh karena saya benar-benar merasakan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian. Sekuat dan setabah apapun kita dalam menghadapi problematika kehidupan kita tetap membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar kita.

Dukungan itu tak selalu  dalam bentuk materi. Semangat, dorongan serta motivasi juga merupakan suatu bentuk dukungan moril yang sangat berarti bagi seseorang . Itulah artinya pentingnya  kehadiran keluarga, kerabat, sehabat dan teman-teman di dalam kehidupan kita. Tampa kehadiran mereka, hidup kita akan hampa.

Jadi jangan pernah merasa sendirian , Bergabunglah dalam sebuah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan dengan kita . Meleburlah didalamnya, jalinlah pertemanan, ulurkanlah tangan kita kepada teman-teman yang membutuhkan bantuan dan dukungan, dan janganlah sungkan untuk meminta pendapat dan saran dari orang lain karena kemunitas merupakan suatu wadah untuk berbagi ilmu pengetahuan dan menjalin persaudaraan .

Saturday, November 15, 2014

"Waspadalah Strok Ringan Dapat Menyerang Kapan Saja"

Anggapan sebagian orang bahwa penyakit darah tinggi mulai dialami oleh orang-orang yang berusia di atas 40 tahunan kini sudah dapat dipatahkan. Sebab kini penyakit darah tinggi mulai menyerang usia di atas 20 tahunan.

Mengapa saya dapat mengatakan hal ini ?, sebab adik ipar saya sendiri yang baru berusia 26 tahun sudah di diagnosa memiliki penyakit darah tinggi. Selain itu adik sepupu saya yang baru berusia 34 tahun kini sedang menjalani rawat inap di salah satu Rumah Sakit Umum di Jakarta akibat terserang Strok Ringan. Pada saat ia terkena serangan strok ringan tekanan darahnya 160/100.

Sayangnya saat saya berkunjung kemarin saya tidak sempat bertemu dengan dokter yang merawatnya sehingga saya belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang perkembangannya. Namun dari yang saya lihat keadaannya sudah mulai membaik dia sudah bisa berkomunikasi walaupun agak sulit di mengerti, namun yang membuat saya bingung mengapa saat di tensi lagi tekanan darahnya naik menjadi 180/100. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kondisinya belum stabil.

Melihat keadaannya seperti ini membuat saya merasa sedih dan berpikir bahwa penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tidak memandang batasan usia dan serangannya dapat datang secara tiba-tiba. Ketika saya tanyakan apa yang ia rasakan saat terkena serangan, ia mengatakan tubuhnya terasa lemas dan dia tidak dapat menggerakkan kaki kanannya.

Dari peristiwa ini saya mengambil kesimpulan bahwa kita harus senantiasa waspada dan memperhatikan kesehatan kita, jaga pola makan yang baik, kurangi konsumsi garam, makanan yang mengandung MSG, kurangi mengkonsumsi makanan cepat saji, olah raga yang cukup dan selalu memeriksakan kesehatan kita baik ke puskesmas maupun ke klinik untuk mengetahui perkembangan kesehatan seperti tekanan darah dan sebagainya. Dengan demikian kita telah berupaya melakukan tindakan pencegahan karena "Mencegah lebih baik dari pada mengobati". 

Friday, November 14, 2014

Menjadi Penulis ? Bermimpi Pun Tidak, Tapi....!!

Sejak kecil saya tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penulis, saya malah bercita-cita ingin menjadi Perancang Busana, karena saya suka menggambar pakaian, kadang kala cita-cita saya berubah ingin menjadi Penari sebab saya juga cinta dengan Dunia Tari.
Ya seperti itulah dunia anak-anak, penuh dengan khayalan, imajinasi dan mimpi. Ketika dia melihat sesuatu yang menarik,imajinasinya langsung berjalan dan khayalannya menjadi tinggi. Namun dengan seiringnya waktu, orientasi cita-cita pun dapat berubah.  Sama halnya ketika masuk usia sekolah Taman Kanak-kanak, saya mulai menyukai puisi, dan drama karena almarhum Ayah saya, kerap kali mengajak kami pergi ke Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan Pentas Drama atau Deklamasi Puisi.
Saat itu saya memang belum memahami pementasan apa yang ditampilkan, tetapi secara langsung saya belajar bagaimana cara Almarhum WS. Rendra mendeklamasikan sebuah puisi dan bagaimana pementasan seni drama di gelar. Bagi anak-anak apa yang mereka lihat dan dengar maka akan selalu membekas di dalam ingatannya. Sehingga para orang tua harus  benar-benar selektif dalam memilih pertunjukan apa yang pantas untuk di tonton oleh anak-anak.
Kemudian setelah saya masuk SMP, saya mulai suka menulis tetapi dalam bentuk karya ilmiah dan itu terus berlanjut hingga saya kuliah, namun rasa cinta saya terhadap puisi dan seni drama tidak berubah. Namun sayangnya minat saya tidak dikembangkan sehingga saya menikah dan memilki seorang putera.
Dan setelah saya menjadi single mother barulah saya menekuni lagi dunia kepenulisan berkat dukungan dan bimbingan dari sahabat dan guru saya Bunda ICha dan Mba Vero,serta teman-teman dari Pedas, Emak-emak Blogger,Warung Blogger dan komunitas penulisan lainnya, akhirnya saya mulai menulis kembali dan memberanikan diri  menulis di media online. Dengan harapan bahwa saya dapat terus maju dan berkembang sehingga dapat menghasilkan karya yang terbaik dan bermanfaat bagi orang banyak. Terimakasih banyak  teman-teman atas dukungan dan semangat dari kalian semua dian akan terus menulis dan menulis hingga dapat menghasilkan karya terbaik dan bermanfaat. Love You All...!!!

Hasil Berkemah Di RSPAD

Beberapa hasil jepretan saya selama satu malam di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Di Jakarta Pusat, suasana malam dan menjelang pagi membuat tempat yang sama menjadi tampak berbeda, mungkin akan lebih cantik lagi foto jika menggunakan kamera khusus fotografi 

Tuesday, November 11, 2014

Aduh.. Anakku "Mulai Jatuh Cinta"

Sebagai orang tua yang memiliki putera-putri yang mulai beranjak remaja pastilah akan menghadapi masa-masa seperti ini.  Di saat anak kita mulai memiliki rasa senang terhadap lawan jenisnya, hal ini merupakan sesuatu hal yang wajar sekali. 

Namun di satu sisi ada ke khawatirkan kita terhadap perasaan yang mereka miliki, apakah mereka sudah mengerti bagaimana menyalurkan rasa sukanya itu. Dan sebatas apa pergaulan mereka di dalam berteman,  karena berdasarkan realita yang ada pergaulan di kalangan remaja sudah cukup memprihatinkan. Sebagai orang tua, tentulah kita tidak menginginkan kejadian-kejadian negatif itu menimpa putera-putri kita.

Oleh karena itu sebagai orang tua seharusnya kita lebih memperhatikan pergaulan anak-anak kita yang mulai beranjak remaja. Berikanlah pendidikan tentang seks sesuai dengan usia mereka, apa yang mereka harus jaga dan apa yang tidak boleh mereka lakukan sebelum mereka menikah.

Mungkin bagi sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan seks itu masih "tabu" . Namun menurut pendapat saya pendidikan seks itu harus diberikan kepada mereka tentu saja sesuai dengan proporsinya,  agar mereka paham bahwa mereka harus menjaga diri sehingga tidak terbawa arus dalam pergaulan bebas. Selain itu pendidikan moral dan agamapun harus diperkuat agar putera-putri kita dapat membentengi dirinya dari pengaruh lingkungan dan pergaulan yang tidak baik.

Dengan demikian kita bisa menaruh kepercayaan dan harapan besar bahwa mereka mampu menjaga dirinya dengan baik dan mereka dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.  Namun kontrol dan pengawasan dari orang tua masih tetap ada,walaupun kita tidak melakukan secara langsung seperti saat mereka kecil dulu,  karena mereka juga membutuhkan kepercayaan dari kita sebagai orang tua.

Waw....Harga Cabe Meroket Lagi

Para "pelaku" pasar mulai resah dan gelisah lagi, kegelisahan mereka bukanlah karena tampa alasan, pasalnya memasuki awal bulan November harga-harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan seperti kenaikan harga cabe yang cukup signifikan antara Rp. 60.000; hingga mencapai Rp. 100.000; .

Tidak hanya para ibu-ibu saja yang mengeluhkan hal ini. Para pedagang, pemilik rumah makan, dan pengusaha lestoran pun mengeluhkan kenaikan harga cabe ini.

Kenaikan harga cabe ini sangat berimbas sekali dengan kenaikan harga yang lain, seperti kenaikan harga makanan di rumah-rumah makan . Belum diketahui apa upaya dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini, saya berharap pemerintah dapat merespon dengan cepat kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok ini agar masyarakat menjadi tenang.

Kita lihat saja bagaimana kinerja Mentri Perdagangan Kabinet Jokowi-Yusuf Kalla yang baru dalam menghadapi kenaikan harga-harga ini, besar harapan kami kebijaksanaan yang digulirkan nanti mampu menyentuh persoalan pasar yang mendasar sehingga kebijaksanaan yang dibuat tepat sasaran.

Ketika Kejenuhan Itu Datang Di dalam Pekerjaan

Menghadapi dunia kerja yang ritme kerjanya konstan dan cenderung "itu-itu saja" membuat seseorang bisa mencapai satu titik jenuh. Apalagi jika di dalam lingkungan pekerjaan itu kita tidak diberikan kesempatan untuk "maju dan berkembang" akan membuat seseorang menjadi apatis dan kehilangan semangat kerja.

Hal itu akan berpengaruh kepada hasil dan kwalitas pekerjaannya. Kita akan cenderung pasif dan merasa "setengah hati" dalam mengerjakan pekerjaannya itu. Jika hal ini terus berlanjut maka produktifitas kerja kita akan semakin merosot dan pihak pimpinan pun kemungkinan besar akan memberikan teguran kepada kita.

Oleh karena itu, kita harus menemukan solusi persoalan ini yaitu dengan cara melakukan introspeksi diri. Ambilah satu waktu untuk melakukan perenungan. Pikirkanlah tujuan awal kita bekerja di perusahaan ini, dan lakukanlah penilaian secara menyeluruh terhadap kinerja diri, jika diperlukan mintalah penilaian dari rekan-rekan kerja kita, tanyakan kepada mereka tentang kinerja kerja kita selama ini. Memang tak mudah bagi kita untuk mendapatkan kritikan dari orang lain, namun kita sangat membutuhkan opini dari rekan-rekan kerja kita atas kinerja kita selama ini. Oleh sebab itu kita tidak  boleh tersinggung dengan perkataan rekan sejawat kita. Hal ini di lakukan demi kebaikan diri kita sendiri.

Namun jika kita telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan etos kerja kita dan berprestasi di dalam melaksanakan tugas kita, namun suasana dan lingkungan pekerjaan kita sudah tak mendukung tak ada salahnya jika kita mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan pendidikan dan bidang yang kita geluti . Dengan demikian kita bisa mendapatkan pengalaman baru dan lingkungan kerja yang baru dan diharapkan semangat kerja pun mengalami pembaharuan sehingga kita dapat berprestasi dan melakukan pekerjaan kita dengan senang hati.

Monday, November 10, 2014

Menanamkan Budaya "Malu" Pada Anak

Budaya " Malu" akhir-akhir ini mengalami penurunan yang sangat signifikan sehingga banyak sekali pemberitaan  bermuculan di media masa baik cetak maupun elektronik tentang dekadensi moral.  Seperti kasus korupsi, penipuan, pelecehan seksual, kekerasan, dan sebagainya.
Hal ini terjadi karena semakin menurunnya rasa malu di dalam individu-individu sehingga mereka tidak lagi merasa sungkan untuk berbuat salah dan  melanggar aturan. Buktinya dengan semakin gencarnya pemberitaan tentang kasus korupsi tidak menurunkan samangat dan keinginan mereka untuk korupsi. Justru malah sebaliknya angka korupsi semakin meningkat. 


Ini menunjukan bahwa budaya malu untuk berbuat yang tidak baik semakin menurun dan punah. Oleh karena itu untuk menyelamatkan generasi selanjutnya para orang tua hendaklah selalu menanamkan budaya "malu" kepada putera-putrinya.  Budaya malu yang di maksudkan di sini adalah malu untuk mencontek,  malu untuk berbohong, malu untuk berbuat curang, malu untuk berpenampilan yang tak sopan dan malu untuk melakukan perbuatan yang melanggar Norma Agama, Hukum, Etika dan Moral. 


Pembiasaan ini harus dilakukan sejak usia dini, karena pada usia seperti ini anak-anak akan lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat dan dengar. Proses penanaman budaya malu ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, dan mereka membutuhkan sosok figur seseorang yang patut mereka teladani dan dengarkan  oleh karena itu orang tua sepatutnya menjadi contoh bagi putera-putri mereka dalam menerapkan budaya malu ini.


Saya rasa jika kita menanamkan budaya malu ini di dalam pribadi masing-masing maka dekadensi moral akan dapat ditanggulangi dengan sendirinya. Sebelum kita mengajarkannya kepada putera-putri Kita tentang budaya malu, selayaknya Kita harus berusaha menerapkan itu di dalam aktifitas kehidupan sehari-hari dengan secara langsung . Dengan demikian anak-anak kita akan belajar menerapkan itu pula di dalam kehidupannya sehari-hari baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual namun mereka juga memiliki pribadi yang santun, berbudi luhur, taat kepada Agama serta menjadi generasi penerus yang membawa pembaharuan menuju Indonesia Baru yang lebih baik lagi.

Sunday, November 9, 2014

"Sunday Sharing" Ajang Silaturahmi Dan Berbagi Ilmu



Saya merasa beruntung sekali karena dapat mengikuti acara Sunday Sharing yang diadakan oleh kantor Detik.com. Pada awalnya saya diajak oleh sahabat saya, Bunda Icha untuk hadir dalam acara ini dan saya sangat berterimakasih kepada Bunda Icha untuk hal ini. 
Setelah hadir dalam acara ini saya merasa senang sekali,  karena di dalam acara ini lah saya dapat bertemu orang-orang yang sangat berpengalaman di dalam bidang bloging, penulisan, sosial media dan para wartawan.

Beliau-beliau ini dengan senang hati mau berbagi ilmu dan pengalaman mereka tentang dunianya masing-masing. Disamping itu  saya juga mendapat banyak pengetahuan dan teman-teman dari berbagai komunitas. 

Menurut saya acara ini sangat bermanfaat sekali karena setiap bulannya topik pembahasanya berubah-ubah sesuai dengan tema-tema yang sedang menggelitik dan hangat diperbincangkan di dalam dunia penulisan dan sosial media. bagi saya ini merupakan tambahan pengetahuan yang sangat berguna sekali bagi penulis pemula seperti saya, para blogger dan pencinta dunia sastra.

Saya berterimakasihlah sekali kepada Detik.com yang telah memberikan fasilitas serta prasarana untuk berlangsungnya acara ini. Dan saya berharap kedepannya acara Sunday Sharing ini dapat semakin berkembang,  lebih maju dan menjadi wadah bagi kami untuk saling bersilaturahmi menjalin persahabatan dan berbagi pengetahuan baik di bidang penulisan, sastra, bloging dan sosial media. 



Thursday, November 6, 2014

Menjadi " Single Mom " Yang Bahagia .....!!

 
Google Image


Perceraian bukanlah akhir dari kehidupan berkeluarga, namun perceraian  merupakan awal dari kehidupan berkeluarga baru . Kehidupan berkeluarga yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sebelum perceraian terjadi kita terbiasa hidup di dalam keluarga yang utuh di mana ada ayah, ibu dan anak-anak. Namun setelah perceraian terjadi banyak sekali perubahan di dalam keluarga kecil kita. Biasanya hak asuh anak-anak  jatuh kepada sang ibu dengan pertimbangan anak-anak yang di bawah umur masih sangat membutuhkan perawatan dan kasih sayang dari sang ibu dan sang ayah berkewajiban memberikan dukungan dari segi finansialnya.

Namun pada kenyataannya dalam beberapa kasus perceraian yang terjadi di Indonesia setelah perceraian terjadi banyak mantan suami yang tidak memberikan dukungan finansial secara semestinya sehingga para wanita yang telah bercerai harus melakukan kerja keras dan berperan ganda baik sebagai seorang ibu maupun sebagai kepala rumahtangga.


Melakukan peran ganda seperti ini bukanlah hal yang mudah, diperlukan kesabaran dan kerja keras untuk melakukannya. Bagaimana seorang ibu harus memberikan kasih sayang dan perhatian yang utuh kepada putera-putrinya sementara dia juga harus mencari nafkah di luar rumah. Selain itu seorang ibu juga harus bertindak sebagai seorang ayah dalam menentukan aturan-aturan di dalam keluarga, seorang  ibu juga harus bisa melakukan hal-hal yang mungkin biasanya dilakukan oleh seorang ayah, walaupun tak sepenuhnya peran ayah dapat tergantikan namun setidaknya para single Mom harus lebih mandiri dan lebih kreatif dari sebelumnya. 

Perceraian ini sendiri merupakan persoalan yang kompleks dan menguras perhatian dan pemikiran kita, sehingga kita harus dapat mengatasi gejolak batin kita namun di satu sisi kita harus dapat tampil sebagai orang tua yang ceria, bahagia dan penuh kasih sayang kepada putera-putri kita.Hal ini harus kita lakukan demi perkembangan kejiwaan putera-putri kita sendiri, kita tidak ingin mereka merasakan apa yang kita rasakan, setidak-tidaknya sebagai orang tua kita berharap anak-anak akan tetap merasa memiliki ayah dan ibu mereka walaupun tidak di dalam satu rumah lagi.

Namun para Singe Mom tidak harus memaksakan dirinya menjadi seseorang yang tegar dan kuat, kita juga masih sangat membutuhkan dukungan baik dari keluarga, kaum kerabat dan teman-teman. Karena kita hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan.. Jika kita memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendirian, akibatnya kita akan menjadi kelelahan dan bisa menimbulkan stress. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental kita dan jangan sampai anak-anak menjadi korbannya. 

Seorang Single Mom  juga membutuhkan waktu luang untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya dan melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari. Ambilah satu waktu di mana kita bisa memanjakan diri kita dengan aktifitas yang bisa menyegarkan pikiran kita seperti bertemu dengan teman-teman atau pergi bertamasya atau aktifitas lain yang sesuai dengan hobi kita. dengan demikian setelah kita memanjakan diri kita, tubuh dan pikiran kita akan kembali segar sehingga kita siap menghadapi rutinitas dan persoalan-persoalan sehari-hari yang sangat menyita perhatian ini. Dan kita akan kembali menjadi orang tua yang ceria, bahagia dan aktif bagi putra-putri tercinta.